Banyuwangi Punya Produk Spearguns. Dijual Hingga Luar Negeri

Ragil dan temannya sedang memproduksi Spearguns di Kelurahan Panderejo, Banyuwangi. (YANUAR WIDODO/ringtimes.net)

BANYUWANGI – Riuh suara mesin gerinda nyaring terdengar di sudut Kampung Kempon, Kelurahan Panderejo, Kabupaten Banyuwangi. Siapa sangka, di lingkungan kecil itu terdapat home industri yang memproduksi Spearguns (panah ikan, red).

Hebatnya, kualitas Spearguns made in Kempon sudah diakui para penggemar sport fishing baik dari dalam negeri maupun mancanegara. Produk Speargun buatan Ragil, pemuda 30 tahun itu telah tersebar ke negara-negara di Benua Asia, Eropa, dan Amerika.

“Jualannya memakai sistem online dan (memanfaatkan, red)  media sosial seperti Instagram dan Facebook,” ujar Ragil, pada Rabu (28/11/2018).

Spearguns dijual Rp 1,5 juta hingga Rp 5 juta, tergantung jenis dan modelnya. Sejak pertama produksi sudah ratusan unit yang terjual.

Meski begitu, Ragil mengaku belum mampu menyediakan stok barang karena keterbatasan modal dan tingginya biaya produksi.

“Karyawan juga belum punya, jadi jika ada yang pesan, baru saya kerjakan,” jelasnya.

Karena keponakan yang gemar berburu ikan

Ragil mengaku mulai tertarik belajar membuat spearguns karena sering melihat keponakannya berburu ikan dengan panah di sungai yang terletak di belakang rumahnya.

“Saya penasaran, akhirnya browsing di internet untuk mendalaminya lebih lanjut,” kenangnya.

Di internet, dia menemukan bahwa kebiasaan memanah ikan yang sering dilakukan keponakannya itu sudah menjadi olah raga yang banyak penggemarnya di seluruh dunia.

“Insting bisnis saya langsung jalan. Tanya kesana kemari. Akhirnya ketemu orang Bali pengrajin spearguns, dan dia mau berbagi ilmu,” jelasnya.

Menurutnya, produk Spearguns Indonesia yang berkualitas hanya bisa dihitung dengan jari. “Kurang lebih ada enam perajin Spearguns yang berkualitas di negeri ini. Yang terbesar ada di Pulau Bali.”

Beberapa bahan baku impor dari Rusia dan AS

Spearguns terdiri dari beberapa komponen. Antara lain, kayu, trigger/pemicu, mekanis, dan rubber atau karet pelontar.

“Proses satu unit memakan waktu dua minggu. Khusus rubber, saya impor langsung dari Rusia dan Amerika. Kalau lainnya bikin sendiri memakai alat-alat semi modern,” ungkapnya.

Awal produksi, Ragil belum mampu membuat trigger dan mekanis. Saat itu, dia memesan dari Pulau Bali. Semakin presisi pembuatan mekanis, semakin akurat Spearguns yang dihasilkan.

Kualitas kayu juga menjadi bahan yang krusial. Spearguns yang berkualitas harus memiliki daya bidik yang akurat, awet, dan tahan dengan tingginya kadar garam air laut.

Selain itu, yang tak kalah pentingnya harus memiliki keseimbangan bobot yang proporsional.

Untuk bodi Spearguns buatannya, Ragil menggunakan kayu Jati yang dilaminasi dengan kayu Bengkirai atau kayu Kamper.

“Penggunaan beberapa jenis kayu dimaksudkan agar Spearguns tidak terlalu berat untuk bermanuver di dalam air dan juga agar tidak terlalu ringan untuk membidik,”ujarnya.

Dengan pemilihan bahan kayu yang bervariasi yang memiliki bobot tertentu membuat Spearguns memiliki daya apung yang seimbang. (YNW/DEF/QWM)

Bagikan Berita ini :