Beda Gaya, Parpol di Banyuwangi Berebut Simpati di Bulan Suci

Bendahara PDIP Banyuwangi, Made Suwastiko saat sosialisasi program Gus Ipul-puti. (DIAN EFFENDI/ringtimes)

BANYUWANGI (ringtimes.net) – Di Banyuwangi, Jawa Timur, pengurus Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Partai Demokrat ‘buka lapak’ di tempat keramaian untuk membagikan ribuan paket takjil Ramadan.

Sambil membagikan takjil kepada pengendara, pengurus Demokrat juga memberikan kalender dan stiker bergambar pasangan Calon Gubernur dan Wakil Gubernur Jawa Timur 2018 nomor urut 1, Khofifah Indar Parawansa dan Emil Dardak.

Di Pilgub Jatim 2018, Partai Demokrat memberikan dukungan kepada Khofifah-Emil. Di Banyuwangi, Ketua DPC Partai Demokrat, Michael Edy Hariyanto ditunjuk sebagai ketua tim pemenangan.

Gaya berpolitik Michael memang dikenal ‘jor-joran’. Seolah tak pernah habis pundi-pundi uang yang terus Ia gelontorkan untuk mengembalikan citra partai yang hancur gara-gara skandal korupsi.

Kegiatan bagi-bagi takjil tidak hanya dilakukan di bulan Ramadan tahun ini. Pada Ramadan tahun-tahun sebelumnya, ribuan takjil juga dibagikan secara gratis.

Agar acara semakin meriah dan menarik perhatian, beberapa artis asal Banyuwangi, seperti Danang Pranada Dhieva juga diajak turun langsung ke jalanan. Agar kegiatan itu diketahui khalayak, beberapa media juga diundang untuk meliput kegiatan tersebut.

Gaya pendekatan ke masyarakat yang dilakukan Partai Demokrat jarang diadopsi oleh partai-partai lain yang ada di Banyuwangi. Kebanyakan mereka memakai metode yang lebih sederhana dan tidak ‘show of force’.

PDI Perjuangan memilih menyambangi warga

Bendahara partai PDI Perjuangan Banyuwangi, Made Suwastiko menilai cara berpolitik Partai Demokrat sulit ditiru partai lain. Diakuinya, Demokrat punya kemampuan finansial yang berlebih karena pengurusnya kebanyakan dari kalangan pengusaha.

“Mereka orang-orang berduit dan militan. Sepertinya mereka rela merogoh kocek pribadi untuk membesarkan partai,” ungkap Made, pada hari Selasa (12/6/2018).

Pada bulan Ramadan ini, PDI Perjuangan juga melakukan kegiatan yang berkaitan dengan bulan puasa, seperti buka puasa bersama dan menyambangi kader-kader partai yang ada di desa-desa.

“Sekaligus untuk ajang sosialisasi pemenangan Gus Ipul-Puti (Calon Gubernur dan Wakil Gubernur 2018 nomor urut 2),” ungkapnya.

Sebagai ketua tim pemenangan Gus Ipul-Puti di Kecamatan Rogojampi dan Blimbingsari, Made harus berjuang keras untuk mengimbangi gerakan tim sukses Khofifah-Emil yang dikomandani Demokrat.

“Kita kumpulkan warga, kita sampaikan program-program Gus Ipul-Puti yang pro rakyat. Utamanya kita instruksikan kepada kader-kader partai agar rutin bergerak.”

Made tidak menampik bahwa kadernya juga pernah melakukan kegiatan bagi-bagi takjil. “tidak banyak, cuma beberapa kali dan itu hanya beberapa bungkus,” ucapnya.

Bagi Made, gaya pendekatan yang dipilih PDI Perjuangan adalah langsung tertuju kepada sasaran, tidak acak, dan dipastikan warga tersebut bisa diajak untuk bergabung dan mendukung program partai.

Made menilai, cara pendekatan sederhana itu tidak kalah efektifnya dengan gaya pendekatan ‘show of force’. Membangun silaturrahmi dan menciptakan kedekatan personal dianggap lebih eksis.

“Kita bangun persaudaraan, saling anjangsana, menghindari paradigma siapa penguasa siapa rakyat, menghilangkan perbedaan si kaya dan si miskin. Kalau itu bisa tercapai, dengan sendirinya masyarakat akan bersimpati.”

Rakyat merasa diuntungkan

Beberapa warga yang diwawancarai ringtimes.net  berkesimpulan bahwa pendekatan partai kepada masyarakat sudah lazim dan wajar. “Apalagi tahun depan sudah Pemilu,” ujar Nastain.

Hanya saja masyarakat sering kecewa bilamana partai yang didukungnya kurang peduli terhadap nasib rakyat. Jadi, menurut Nastain, rakyat harus jeli dan paham betul untuk apa dan untuk siapa dia menjatuhkan pilihan.

“Pemimpin yang merakyat itu jangan hanya dimaknai karena sering berkumpul dengan warga, ada orang meninggal dia datang, ada orang hajatan dia membantu. Bukan itu,” ungkapnya.

Tetapi, kata Nastain, calon pemimpin yang merakyat itu adalah orang yang punya visi ke depan yang jelas. Memiliki program pro rakyat, dan bisa dengan tegas memperjuangkan program-program pro rakyat itu bisa berjalan.

Agus, warga Lemahbangdewo menilai cara pendekatan masing-masing partai sah-sah saja dilakukan, asal tidak melanggar aturan, seperti money politic.

“Yang salah ya mereka sendiri, selalu iming-iming uang dan hadiah. Akhirnya rakyat terbiasa. Akhirnya politik di Indonesia jadi mahal,” kritiknya.

Gerakan yang dilakukan partai politik selama bulan Ramadan, dianggapnya cukup menguntungkan bagi rakyat. “Yang saya tahu, ada yang bagi-bagi takjil, sarung, kerudung, dan sembako. Anggap saja itu sedekah untuk rakyat,” pungkasnya. (DEF/C1)

Bagikan Berita ini :