Bramuda: Layar Kemendung Tidak Dirumuskan Satu Pihak

Layar Kumendung
Bendera VOC diatas replika kapal pada acara Gandrung Sewu 2018 bertema Layar Kemendung. (FACEBOOK FATAH YASIN NOOR)

BANYUWANGI – Polemik pengibaran bendera VOC dalam Festival Gandrung Sewu 2018 mendapat tanggapan dari Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Banyuwangi, MY Bramuda.

Dalam wawancara melalui telepon dengan ringtimes.net pada Senin (22/10/2018), MY Bramuda mengatakan, pengibaran bendera VOC di atas replika kapal hanya sebuah properti dalam cerita Gandrung Sewu 2018 bertema Layar Kemendung tersebut

“Semua yang ada di pagelaran GS (Gandrung Sewu, red) hanya properti yang ingin ditunjukkan oleh kreator atau sutradara. Tujuannya, agar penonton benar-benar seperti berada pada suasana saat itu. Mas Alit naik kapal VOC dan hilang oleh perompak, itu bagaimana kelanjutan ceritanya akan tersambung dalam GS 2019,” ungkap Bramuda pada Senin (22/10/2018).

Lebih jauh Bramuda menjelaskan, Gandrung Sewu 2018 yang bertema Layar Kemendung menceritakan perlawanan rakyat Banyuwangi kepada VOC pada masa bupati pertama, Mas Alit, tahun 1774.

Layar Kemendung oleh panitia diartikan sebagai kesedihan di atas kapal VOC. Sebab, saat itu banyak masyarakat Banyuwangi yang dibantai dan disiksa di sana.

Tema Layar Kemendung, kata Bramuda, tidak muncul dan disusun secara asal-asalan. Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Banyuwangi telah meminta pendapat para budayawan dan seniman Banyuwangi.

“Yang namanya sejarah itu tidak ada kata titik. Setiap sejarawan punya versi dan pendapat yang berbeda. Jadi kita pilih cerita yang mendekati (kebenaran, red),” jelasnya.

Menurut Bramuda, perumus cerita tidak dilakukan oleh satu-dua pihak. Tapi melibatkan banyak pihak. Kepada ringtimes.net, Bramuda menyebut beberapa nama yang dianggap ikut andil dalam perumusan cerita bertema Layar Kemendung itu.

“Abdullah Fauzi, Hasnan Singodimayan, Supinah, dan Temu, adalah beberapa nama yang dimintai pendapat. Tapi tidak hanya mereka, masih banyak yang lain,” tegasnya.

Akan tetapi, Bramuda tidak menjelaskan tolok ukur yang digunakan untuk menentukan cerita yang menurutnya paling dekat (kebenaran, red). Juga tidak disebutkan siapa penguji yang berwenang “mengadili” cerita bertema Layar Kemendung tersebut, jika yang dipilih adalah yang dianggap paling dekat (kebenaran, red).

Selain itu, Bramuda tidak menjelaskan kapasitas dan latar belakang akademis para pihak yang terlibat. Padahal, menentukan cerita yang paling dekat (kebenaran, red) berhubungan erat dengan nalar dan logika berpikir yang digunakan oleh masing-masing anggota.

Setelah mendapat tanggapan dari Bramuda, untuk mendapatkan informasi lebih lengkap, ringtimes.net menghubungi Abdullah Fauzi.

Namun, hingga berita ini diunggah, ringtimes.net belum berhasil tersambung dengan Abdullah Fauzi dan pihak lain yang disebut Bramuda ikut merumuskan cerita Layar Kemendung tersebut.

Pesan whatsapp dan telepon oleh ringtimes.net kepada Abdullah Fauzi belum mendapat tanggapan. Sehingga, ringtimes.net belum mengetahui dasar-dasar cerita yang dijadikan landasan dalam menyajikan fragmen Gandrung Sewu 2018 Sabtu (20/10/2018) lalu.

Meski demikian, ringtimes.net berkomitmen terus melakukan pelacakan, baik terhadap pihak yang disebutkan Bramuda maupun pihak-pihak lain yang dimungkinkan terlibat acara tersebut.

Tujuannya, agar masyarakat mengetahui dengan jelas tolok ukur yang digunakan dalam menentukan cerita yang paling dekat (kebenaran, red), latar belakang akademis mereka, dan pola pikir yang digunakan, sehingga cerita yang dihasilkan benar-benar bisa dipertanggungjawabkan. (def/qwm).

(Berita ini akan terus diperbaharui)

Bagikan Berita ini :