Bullying di Banyuwangi Juga terjadi di Pesantren, Anakku diintimidasi

Korban bullying

BANYUWANGI – Setelah munculnya pengakuan korban perundungan alias bullying di Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur pada Senin (1/10/2018). ringtimes.net, menerima pesan singkat dari orang yang mengaku sebagai orang tua korban bullying yang lain.

“Itu masih seberapa. Beratan (lebih parah) anakku di pesantren. Tidak cuma dibully saja. Bahkan diintimidasi. Padahal pesantren mengajarkan akhlak agar jadi anak yang soleh dan Solehah. Untung saja anakku tidak down,” ungkapnya, pada Selasa (2/10/2018).

ringtimes.net memilih menyembunyikan identitas narasumber karena anaknya masih berusia dibawah umur dan masih menempuh pendidikan.

“Kiainya pernah ngomong ke saya. Yang diopeni (nyantri) kan banyak. Jadi harus sabar dan telaten,” ucapnya.

Dari pengakuan narasumber, perundungan atau bullying yang menimpa anaknya terjadi di salah satu pesantren di wilayah Kecamatan Tegalsari.

Dinas terkait belum memberi klarifikasi

Terkait munculnya pemberitaan kasus perundungan atau bullying yang menimpa siswa SMP di Kecamatan Rogojampi, Dinas terkait belum memberi tanggapan secara serius.

Dinas Pendidikan Banyuwangi melalui Kepala Bidang SMP, Suratno, pada Senin (1/10/2018), menyatakan telah menanyakan persoalan itu kepada kepala sekolah di tiga SMP negeri yang ada di Kecamatan Rogojampi.

“Semuanya mengatakan tidak ada kejadian seperti (bullying) yang disampaikan korban,” ungkap Suratno melalui sambungan telepon.

Selain itu, Dinas Pendidikan mengatakan belum bisa memberi tanggapan terkait pengakuan itu karena belum mengetahui identitas korban dan tempat tinggalnya.

Bagaimana dengan Banyuwangi Children Center?

Banyuwangi sebenarnya telah memiliki program Banyuwangi Children Center (BCC) untuk mencegah terjadinya kekerasan anak.

Dikutip dari website resmi Pemerintah Kabupaten Banyuwangi, BCC yang baru dibentuk Pemkab Banyuwangi pada 20 Mei 2016 langsung bergerak merespons jika ada pengaduan kasus kekerasan kepada anak.

Pada Jumat (27/5/2016), humas Pemkab mengeluarkan berita tentang tiga pengaduan telah dan sedang ditangani oleh tim terpadu yang melibatkan pemerintah daerah, tokoh masyarakat, dan aparat penegak hukum.

Laporan dari warga tersebut masuk ke jalur pengaduan di nomor 082139374444. Sesuai mekanisme kerjanya, BCC pun langsung meneruskan ke satgas terdekat dan Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A)  untuk segera menindaklanjuti laporan tersebut.

”Dengan adanya BCC, warga atau korban yang semula takut lapor, sekarang tinggal SMS. Bahkan siswa yang merasa gurunya melakukan kekerasan verbal sekalipun bisa melaporkan. Ini sangat memudahkan, karena kekerasan kepada anak adalah kejahatan luar biasa yang merenggut hak dan masa depan anak, sehingga harus dilawan dengan cara luar biasa. BCC menjadi ikhtiar daerah untuk mengatasi hal itu,” ujar Bupati Anas, dikutip dari banyuwangikab.go.id.

Lantas, benarkah BCC merespon laporan dengan cepat?

ringtimes.net mencoba menelepon ke call center BCC 082139374444, pada Senin (1/10/2018), untuk menanyakan tata cara melaporkan kejadian bullying dan kekerasan terhadap anak.

Operator BCC mengatakan, proses pelaporan terjadinya dugaan bullying ataupun kekerasan terhadap anak adalah dengan menelepon dan sms.

Operator juga mengharuskan korban datang ke kantor Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) untuk mengisi form pengaduan dan menulis kronologi kejadian.

Menurut salah satu pegawai yang pernah berdinas di Bidang Perlindungan Anak P2TP2A, Mimin. Seharusnya orang tua korban segera melaporkan dugaan bullying ke BCC atau ke P2TP2A.

“Kalau dirahasiakan sekolah dan nama alamat korban, bagaimana kita mau turun. Kalau lapor ke kita, juga pasti rahasia dan akan dirahasiakan,” jelasnya.

Seperti diberitakan sebelumnya, ringtimes.net melakukan investigasi tentang perilaku perundungan atau biasa disebut bullying yang masih terjadi di Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur.

Kali ini, ringtimes.net akan memaparkan cerita dari seorang korban perundungan. Dia adalah salah satu siswa SMP Negeri di Kecamatan Rogojampi, Banyuwangi.

Identitas korban dan nama sekolah sengaja kami rahasiakan dengan pertimbangan perlindungan terhadap anak. (def/qwm)

 

(Berita ini masih memerlukan verifikasi lebih lanjut yang diupayakan dalam waktu secepatnya)

Bagikan Berita ini :