Catatan Penting dari Sarasehan Sejarah Aliyan

Kepala Desa Aliyan, Anton Sujarwo saat mengikuti sarasehan sejarah. (DIAN EFFENDI/ringtimes.net)

BANYUWANGI – Diawali di Desa Kradenan dan berlanjut di Desa Gintangan pada Agustus lalu, sarasehan sejarah kembali digelar di Desa Aliyan, Kecamatan Rogojampi, pada Sabtu malam (8/9/2018).

Untuk membangkitkan semangat dan menumbuhkan jiwa patriotisme, masyarakat harus diajak untuk mengerti dan mengetahui kebenaran sejarah para leluhurnya.

Prinsip itulah yang tengah dijalankan komunitas Blambangan Kingdom X-plorer (BKX) dan Banjoewangi Tempoe Doeloe (BTD). Dua komunitas tersebut adalah lembaga non pemerintah yang konsisten mengenalkan sejarah Banyuwangi.

Berbekal data dan catatan sejarah tentang Blambangan itulah BKX dan BTD berhasil mengungkap sejarah beberapa desa di Banyuwangi, seperti Desa Kradenan, Gintangan, dan yang terbaru adalah Desa Aliyan.

Misi penting yang ingin dicapai dalam setiap sarasehan adalah untuk memberi pemahaman kepada masyarakat bahwa legenda, cerita tutur, dan sejarah itu tidaklah sama.

Antara fakta dan cerita

Sarasehan sejarah Di Balai Desa Aliyan, Kecamatan Rogojampi, Sabtu malam (8/9/2018) berlangsung sangat menarik. Puluhan tokoh masyarakat, tokoh agama, dan pemuda saling memberi masukan dan juga aktif melontarkan pertanyaan.

Narasumber dari BKX, Mas Aji Wirabhumi, menjelaskan berdirinya Desa Aliyan beserta para tokohnya.  Aji mengutip buku ‘Perebutan Hegemoni Blambangan’ dan menegaskan bahwa dalam catatan ANRI Arsip Daerah Residensi Banyuwangi no.7, di Kemantren Ragajampi terdapat sebuah desa bernama Kulikalian.

“Kata ‘Kulik’ dalam ‘Kulikalian’ secara toponimi mirip dengan kata Kulih. Dalam Kamus Bahasa Using karya Hasan Ali, kata ‘Kulih’ berarti kembali seperti semula,” jelas Aji Wirabhumi.

Menurutnya, catatan kompeni tersebut dibuat pada masa Residen Lodewijk Uittermoole dan Gezaghebber Surabaya, R. Fl. Van der Niepoort di tahun 1772-1784 atau saat Mas Alit berkuasa.

Kata kulih menunjukkan bahwa di Aliyan pernah terjadi suatu peristiwa yang membuatnya rusak dan kemudian dibangun kembali sehingga pulih seperti sedia kala. Aji menyebut, nama Aliyan atau Alihan bermakna Pindah atau dipindahkan. Yakni berpindahnya penduduk dari Kuthadawung ke Macanputih sekitar tahun 1655.

Adapun nama tokoh-tokoh yang sering disebut dalam cerita tutur masyarakat Desa Aliyan diantaranya adalah Ki Wira Digdaya. Tokoh ini diperkirakan hidup pada era Susuhunan Prabu Tawangalun II. Menurut narasumber, jika dilihat dari namanya, Ki Wiradigdaya mirip dengan Senapati Balambangan, Widigdaya Siding Betawi, nama lain dari Menak Luput, saudara dari Prabu Menak Lumpat (1575-1639).

“Artinya, Ki Wiradigdaya kemungkinan adalah cucu dari Senapati Widigdaya Siding Betawi dan sepupu dari Prabu Tawangalun 2,” ungkapnya.

Nama tokoh lain yang disebutkan dalam sarasehan tersebut adalah nama Kepala Desa Alihan, Ki Kidang Garingsing yang hidup pada jaman Agung Wilis dan Rempeg Jagapati pada tahun 1705 sampai 1774 dan Ki Wongsokenongo yang diyakini adalah tokoh yang membangun kembali Desa Aliyan pasca pembumihangusan oleh kompeni.

Banyak tradisi lokal yang hilang

Beberapa warga yang menghadiri sarasehan tersebut bercerita bahwa ada tradisi dan seni yang hilang atau sudah tidak pernah dilaksanakan oleh masyarakat.

Pemuda asal Dusun Sukodono, Jefri mengatakan, dia pernah diberitahu oleh salah satu dosen di Universitas Banyuwangi bahwa pada zaman dahulu di Aliyan ada kesenian ‘Wayang Buyut Takul’.

“Untuk itu kami mengusulkan agar kesenian itu ditelusuri dan jika bisa digelar kembali,” usulnya.

Sementara itu, Sumari, mengatakan di Dusun Cempokosari juga ada tradisi adat yang hilang, yakni Kumoro. Dia menjelaskan bahwa Kumoro adalah ritual untuk meminta hujan yang dilakukan oleh masyarakat.

“Setelah era tahun 1970 an, Kumoro tidak ada lagi,” ungkapnya.

Munculnya informasi tentang hilangnya tradisi masyarakat tersebut disikapi oleh Kepala Desa Aliyan, Anton Sujarwo dengan membentuk tim untuk merekonstruksi dan bila dimungkinkan akan digelar kembali.

Salah satu tetua adat Aliyan sekaligus pemilik sanggar tari Sayu Wiwit, Kang Jul, menyampaikan bahwa tradisi Kumoro telah diwujudkan dalam sebuah tarian yang diciptakannya dan dia setuju bilamana ritual itu kembali dilaksanakan.

Segera membangun museum desa

Pada kesempatan itu, Kang Joel juga bercerita bahwa tim BKX telah melakukan ekspedisi dan menemukan benda peninggalan bersejarah yang diperkirakan berusia ratusan tahun di Desa Aliyan.

“Agar benda-benda itu tetap terlindungi, kepala desa segera membangun museum desa,” ungkapnya.

Sependapat dengan Kang Joel, Kades Anton Sujarwo menyampaikan bahwa dengan ditemukannya benda-benda bersejarah membuktikan bahwa Desa Aliyan adalah desa tua yang menyimpan kekayaan budaya dan sejarah.

“Dari sarasehan ini dapat disimpulkan bahwa desa kita memiliki tokoh-tokoh besar dan rakyatnya yang gagah berani. Selain tradisi Keboan, ternyata banyak tradisi lain yang harus kembali dilestarikan,” pungkasnya. (def)

Bagikan Berita ini :