Dari Puing-Puing Lombok untuk Sigi, Palu, dan Donggala

Gempa lombok
Meski dalam kondisi memprihatinkan, murid sekolah dasar di Lombok, NTB turut memberikan bantuan untuk korban gempa bumi dan tsunami di Palu dan Donggala. (LUKMAN BIN SALEH/ringtimes.net)

Oleh : Lukman Bin Saleh

Pagi ini siswa-siswi SD Negeri 3 Sambik Elen, Kecamatan Bayan, Lombok Utara memanjatkan doa bersama dan mengumpulkan sumbangan untuk korban gempa di Sulawesi Tengah.

Tidak banyak memang, karena hanya sekolah kecil di pelosok. Jumlah muridnya tidak lebih dari 100 orang. Tapi luar biasa semangat mereka. Hampir seluruhnya menyumbang.

Hanya dua atau tiga orang saja yang tidak menyumbang. Itupun karena uang sakunya telah habis,  atau memang tidak membawa uang saku dari rumah.

Sebenarnya keadaan mereka juga sama memprihatinkan. Masih tinggal di tenda, dan banyak diantara rumah mereka  telah rata dengan tanah, tinggal puing, dan pondasi.

Para murid ingin sumbangan itu saya kirim langsung ke korban. Sayang sekali, saya tidak punya teman di Donggala, Palu atau Sigi.

Tapi tidak mengapa, sumbangan itu sudah saya kirimkan melalui ACT (Aksi Cepat Tanggap). Yang kebetulan saya melihat sendiri bagaimana aksi mereka di Lombok.

Peduli Lombok untuk Palu
Hasil sumbangan murid SD di Lombok, NTB untuk korban gempa bumi dan tsunami di Palu dan Donggala. (LUKMAN BIN SALEH/ringtimes.net)

Bagaimana beberapa jam setelah gempa dan tsunami di Sulawesi, mereka telah eksis di sana. (setelah memposting tulisan ini, saya baru tahu dari sahabat saya, Bapak Eri Bahtiar dari Sulteng).

Saya yakin pemerintah juga akan serius membantu mereka. Tapi percayalah kemampuan pemerintah terbatas. Keterbatasannya bukan secara finansial tapi lebih pada kemampuan menyusun program yang efektif dan kemampuan menggerakkan birokrasi secara cepat.

Kami di Lombok telah menyaksikan sendiri. Lombok yang mungil. Lombok yang gempanya lebih kecil. Tidak bisa tertangani dengan baik.

Kedinginan, kelaparan, kehausan masih menjadi penderitaan masyarakat Lombok hingga saat ini.

Saluran air bersih belum pulih, air bersih harus dibeli, masyarakat masih berteriak meminta bantuan pipa. Tidak ada bantuan pangan, jaminan hidup yang dijanjikan entah kapan cairnya, masih terbelit birokrasi yang rumit.

Tidak ada huntara, tidak ada terpal. Apalagi rumah yang dijanjikan pun entah kapan akan terwujud.

Oleh sebab itu, mari kita berbuat sesuatu untuk saudara-saudara kita di Sulawesi Tengah. Jangan terbuai melihat bantuan pemerintah yang mengalir ke sana.

TNI mengirim ini, Kementerian Sosial mengirim itu. BNPB akan begini, Kementerian Keuangan akan begitu, ataupun Kementerian Kesehatam mengirimkan tim.

Wakil Presiden menyatakan akan memberi semua kebutuhan korban gempa. Percayalah. Semua bantuan yang tampak gegap gempita itu kelak akan “tenggelam”di sana.

Luasnya wilayah, dahsyatnya bencana, banyaknya korban yang membutuhkan, membuat bantuan itu tidak memadai. Kami di Lombok telah merasakannya.

Selain mengajak siswa-siswi, rekan-rekan guru dan masyarakat untuk memberikan bantuan. Saya pribadi telah berjanji pada diri sendiri, selama enam bulan kedepan, Insyaallah akan menyisihkan setiap rezeki yang saya dapat untuk masyarakat di sana. Sekecil apapun itu.

Cukuplah Lombok yang tidak bisa dijangkau bantuan secara merata. Jangan kita biarkan hal itu terjadi lagi pada saudara-saudara kita di Sulawesi. Tidak penting besarnya jumlah sumbangan. Yang paling penting adalah berapa banyak dari kita yang peduli dengan mereka.

Mari bersama kita berbuat membantu korban, membantu pemerintah. Mendukung relawan, yayasan-yayasan, dan lembaga yang terjun di sana.

Mari saudaraku. Kita bangsa yang besar. Kita tidak seperti Kongo, Somalia, Nigeria, atau Ethiopia. Tidak pantas ada diantara kita yang kedinginan, kelaparan dan kehausan berkepanjangan setelah bencana melanda. (lbs)

Bagikan Berita ini :