Kami Menyebut Bandara Banyuwangi sebagai Bandara Agong Weles

Bandara Agong Weles
Bandara Agong Weles (Bandara Banyuwangi, Red). (HUMAS PEMKAB BWI)

BANYUWANGI -Sebelum namanya diganti menjadi Bandara Banyuwangi, bandara tersebut bernama Bandara Blimbingsari. Tapi sebagian orang justru lebih bangga menyebutnya Bandara Agong Weles.

Lalu, ringtimes.net meminta penjelasan beberapa narasumber untuk mengetahui alasan mereka lebih suka menyebut Bandara Banyuwangi menjadi Bandara Agong Weles.

Hidayat Subuki, Tembokrejo

Agong Weles adalah pahlawan rakyat Blambangan. Wajar jika saya pribadi lebih suka Bandara Banyuwangi saya sebut Bandara Agong Weles.

Nastain, Blimbingsari

Banyak nama bandara memakai nama pahlawan. Seperti Bandara Ngurah Rai di Bali, Bandara Notohadinegoro di Jember. Kenapa bandara di Banyuwangi tidak memakai nama Agong Weles?

Gunawan, Rogojampi

Walau pemerintah memakai nama Bandara Banyuwangi, boleh saja saya sebut Bandara Agong Weles. Saya sebagai Wong Oseng merasa iri dengan rakyat Bali yang salah satu pahlawannya dipakai untuk nama bandara.

Moh Saidi, Singojuruh

Ada nama Tawang Alun dipakai untuk nama kereta api. Sri Tanjung juga dipakai untuk nama kereta api. Saya lebih setuju jika bandara itu diberi nama Agong Weles.

Rosidi Zein, Rogojampi

Kita punya pahlawan-pahlawan besar. Agong Weles salah satunya. Meski Bandara Blimbingsari telah diganti menjadi Bandara Banyuwangi, saya tetap lebih suka menyebut Bandara Agong Weles.

Agus Salim, Blimbingsari

Saya lebih suka menyebutnya Bandara Agong Weles. Lagipula Agong Weles tercatat tertangkap Belanda di Blimbingsari. Sehingga, penyebutan Bandara Banyuwangi sebagai Bandara Agong Weles bukanlah tanpa dasar sejarah yang jelas dan kekosongan pengetahuan.

Itu pendapat yang sah

Apa yang disampaikan oleh enam warga Oseng tersebut menurut Kepala Pemberitaan Ringtimes.net, MH. Qowim, sah-sah saja.

“Itu pendapat yang didasarkan oleh rasa cinta kepada Agong Weles sebagai pemimpin rakyat Blambangan di masa lalu. Saya rasa pendapat itu perlu diperhatikan,” jelasnya.

Namun demikian, MH. Qowim menggarisbawahi bahwa penyebutan Bandara Agong Weles bukan sebuah bentuk protes terkait pemberian nama Bandara Banyuwangi. “Ini hanya penyebutan, sehingga tidak perlu dirapatkan atau minta persetujuan siapa-siapa. Sebagaimana juga sapaan, sebutan juga bisa diberikan oleh siapa saja dan kepada siapa saja, misalnya Indonesia disebut Nusantara dan Hindia Belanda, Tiongkok disebut China, Banyuwangi disebut Blambangan, atau Sukarmin disebut Si Gondrong. Oleh karena itu, keputusan ini tidak membuka ruang untuk diperdebatkan,” tambahnya.

Berdasar hasil penelusuran di berbagai lokasi tersebut, ringtimes.net mengambil keputasan yang berpihak kepada masyarakat. “Atas dasar itu, sejak berita ini ditulis, ringtimes.net akan menyebut Bandara Banyuwangi sebagai Bandara Agong Weles. Selain mengandung nilai kebanggaan, hal itu untuk menghargai pendapat rakyat, karena ringtimes.net adalah media penyambung lidah rakyat Banyuwangi,” kata MH. Qowim, pada Senin (24/9/2018).

Terkait pemilihan graf Agong Weles, bukan Agung Wilis, ringtimes.net memiliki dasar linguistik yang bisa dipertanggungjawabkan. Dalam bahasa Oseng, bunyi [i] dan [e] seperti halnya [u] dan [o] merupakan fonem yang berbeda. Oleh karena itu, tidak dibenarkan jika bunyi-bunyi tersebut disimbolkan dengan huruf yang sama. (def/qwm)

Bagikan Berita ini :