Kisah Dua Kukusan Bambu

Almarhum Mukafi Ahmad (JOKO INTARTO untuk ringtimes.net)

Oleh: Joko Intarto

Dua kukusan mini dari Ciburial itu masih utuh. Tersimpan di dalam tas. Seharusnya saya serahkan kepada pemesannya. Dalam acara ulang tahun pertama Disway.id di Surabaya Sabtu, 9 Februari tadi.

Pekan lalu, ia mengontak saya. Menanyakan apakah kukusan untuk penyaring kopi itu sudah bisa dipesan. Ia hanya butuh dua buah saja. Untuk dipakai sendiri.  Maka saya bawakan dua unit. Sesuai permintaannya.

Sejak tiba di Pakuwon Trade Center di Surabaya Barat, lokasi ulang tahun Disway.id, saya clingak-clinguk. Mencari tiga wajah: Eddie Yoelianto dari Gresik, Hera Halimah dari Jember dan Mukafi Ahmad dari Kediri.

Eddie janji membawakan saya legen dan otak-otak bandeng. Ketemu. Saya berikan kepadanya: sebuah kukusan mini dan sebungkus kecil kopi  termahal di dunia. Kopi luwak liar dari Sipirok, Tapanuli Selatan, Sumatera Utara. Di Frankfurt harganya Rp 7,9 juta per Kg.

Hera Halimah datang membawa pesan dari Alesandro Baidlowi. Sahabat saya yang sedang membuat warung kopi di Jember. Ia butuh 12 buah kukusan bambu. Ketemu. Beres.

Tapi wajah yang satunya tidak saya temukan. Hingga selesai acara. Kemana Mukafi Ahmad? Mengapa tidak berkabar?

Dalam perjalanan menuju Bandara Juanda, saya baru sempat buka Facebook.  

Inalillahi wainailaihi rojiuun…

Ternyata Mukafi Ahmad telah berpulang ke rahmatullah pada Jumat malam. Kabarnya, tekanan darahnya naik drastis. Mungkin menyebabkan stroke? Entahlah.

Umur adalah rahasia Allah. Tidak ada yang tahu kapan berakhir. Semoga sahabat saya Mas Mukafi Ahmad diampuni semua dosa dan kesalahannya.

Selamat jalan kawan. Biarlah dua kukusan bambu ini saya simpan lagi. Sebagai tanda persahabatan kita. (JTO) 

Bagikan Berita ini :