Kisah Mbah Tum. Mengais Rejeki dari Sampah Plastik

Hasil kerajinan berbahan sampah plastik karya Mbah Tum. (YANUAR WIDODO/ringtimes.net)

BANYUWANGI – Sampah memang menjadi problem tersendiri bagi masyarakat. Padahal, sudah banyak pihak yang mendedikasikan diri untuk mengelola sampah dan problematikanya.

Mengolah sampah memang gampang-gampang susah. Baik itu sampah rumah tangga ataupun sampah perkantoran. Apalagi sampah dan limbah industri, luar biasa peliknya.

Salah dalam menangani sampah dan limbah, tentu sangat berpengaruh bagi kelangsungan hidup manusia.

Dewasa ini bertambahnya volume sampah bisa dikategorikan cukup meresahkan. Oleh karena itu program-program dari pemerintah ataupun lembaga swasta untuk mengatasi problem sampah dengan cara di daur ulang perlu terus ditingkatkan.

Apa yang dikerjakan Tuminah (63 tahun), warga Jalan Serayu RT 2 RW 1, Kelurahan Panderejo, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur layak ditiru. Dia konsisten mengubah sampah plastik menjadi sebuah kerajinan yang bernilai ekonomis.

“Sejak tahun 2015 saya belajar membikin tas, dompet, gantungan kunci, dan topi berbahan sampah plastik,” ungkapnya kepada Jurnalis ringtimes.net, Yanuar Widodo pada Senin (3/12/2018).

Bekas bungkus kopi jadi media pembelajaran.

Tuminah mulai tertarik membuat kerajinan dari sampah plastik setelah mengikuti pelatihan pengolahan sampah yang dilaksanakan di kelurahan.

Pada saat pelatihan, dia diajari membuat tas dari bekas bungkus kopi. Menurutnya, tas berbahan bekas bungkus kopi menjadi dasar dari semua bentuk barang yang nantinya akan dibuat.

“Selain mudah didapat, sampah plastik bekas bungkus kopi itu juga mudah dibentuk dan banyak motifnya. Itu (bungkus kopi, red) digunting, dirapikan, dilipat, dianyam dan disatukan, terus seperti itu sampai terbentuk sebuah tas cantik,” terangnya.

Anyaman kemudian diperkuat dengan benang nylon bening dan bisa ditambah dengan resleting dan pernak-pernik untuk lebih mempercantik tampilan.

Pemilihan bekas bungkus kopi dan cara melipatnya juga mempengaruhi hasil akhir dari motif tas yang akan dihasilkan.

Desain berasal dari kreasi sendiri dan contoh dari televisi.

Sementara itu untuk urusan desain, Tuminah mengaku, motif model, bentuk, dan ukuran tidak seratus persen berasal dari dirinya.  

“Sebagian besar memang krativitas sendiri, tapi kadang juga hasil dari nonton televisi, “ jelasnya.

Awal belajar tantangan tersulit ialah memadukan desain dan ukuran menjadi tantangan tersendiri baginya. Ada kalanya berhasil membuat desain yang bagus, tapi kadang juga tidak sesuai harapan.

“Membuat bentuk baru pun tidak semudah yang dibayangkan. Pernah bereksperimen memakai bahan baru meniru di televisi tapi hasilnya kurang memuaskan,” ungkapnya.

Dengan penuh kesabaran,  Tuminah akhirnya berhasil membuat beberapa desain kerajinan berbahan sampah plastik.

Produk yang dihasilkannya pun semakin beragam. Dia tidak hanya mengandalkan bahan dari bungkus kopi. Tapi sudah berhasil memanfaatkan tas kresek, kain perca, dan penutup air kemasan.

“Untuk tas ukuran besar butuh hingga tiga ratus bungkus kopi, kalau yang kecil cukup dua ratus saja,” terangnya.

Untuk membuat satu tas dan dompet, membutuhkan waktu hingga empat hari. Lamanya proses tergantung dari ketersediaan bahan baku.

“Khusus gantungan kunci berbahan tas kresek, bisa selesai dalam waktu hitungan jam,” ujarnya.

Dari murid menjadi guru

Karena kemarihannya mengolah limbah plastik menjadi karya yang bernilai ekonomis, Mbah Tum banyak mendapat undangan mengajar keterampilan membuat tas, dompet, dan pernak-pernik lain di berbagai institusi dan perorangan.

“Berbagi sedikit ilmu, dan dan saya tidak mematok honor untuk ngajari orang,” tegasnya.

Menjadi instruktur memang hal baru buat Mbah Tum. Seingatnya, dia pernah mengajar untuk ibu-ibu PKK Kelurahan Kepatihan, Klatak, Penganjuran, dan beberapa komunitas wanita lainnya.

“Tas besar dijual seharga lima puluh ribu, yang kecil tiga puluh lima ribu, gantungan kunci seribuan,” ungkapnya.

Tak jarang ada orang yang memesan langsung tas daur ulang dengan desain dan model khusus ke Mbah Tum.

Model tas terbaru berbahan limbah benang nylon

Hampir satu tahun, Mbah Tum memproduksi tas model baru berbahan dasar limbah benang nylon dari konveksi dan pabrik tekstil. “Putri saya yang di Tanggerang yang beli dari konveksi dan dikirim kesini.”

Limbah nylon sebanyak satu dus ukuran tanggung dibeli seharga Rp 150 ribu dan bisa menghasilkan sepuluh buah tas selempang berukuran sedang.

Tas trendi itu banyak diminati oleh mahasiswi dan para wanita. “Saya jual seratus ribu rupiah, karena rumit dan agak lama pengerjaannya.”

Sulitnya memasarkan produk daur ulang

Meski begitu, pemasaran terus menjadi momok yang menghantui. “Dulu banyak laku di pameran. Tapi sekarang sepi. Sekarang ini cuma mengandalkan pesanan saja” ucapnya.

Dulu Mbah Tum sering mendapat order untuk mengisi stand pameran. Namun satu tahun terakhir pesanan semakin menghilang. Entah karena persaingan bisnis yang kuat atau hal lain, Mbah Tum mengaku tidak tahu. (YNW/DEF/QWM)

Bagikan Berita ini :