Kisah Pedagang Asongan yang Sukses Menjadi Bos Tempe

Para pekerja sedang menyelesaikan produksi tempe di pabrik milik Kang Roni di Banyuwangi. (YANUAR WIDODO/ringtimes.net)

BANYUWANGI – Siapa yang tidak kenal tempe?, makanan asli Nusantara ini sangat mudah dijumpai diseluruh pelosok negeri ini. Makanan penuh gizi tersebut biasa disajikan untuk lauk ataupun camilan. Penikmatnya pun tidak memandang kelas sosial atau kasta. Bisa dikatakan, tempe diterima oleh semua kalangan. Bahkan, orang luar negeri pun banyak yang menyukai tempe.

Tingginya permintaan tempe menjadi salah satu peluang bisnis yang sangat tepat untuk digeluti. Di Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur, mantan pedagang asongan di Pelabuhan Ketapang kini sukses menjadi “bos tempe”.

Asrori (41 tahun), mantan pedagang asongan itu kini berhasil memiliki pabrik tempe terbesar di Lingkungan Kemasan, Kelurahan Panderejo. Dalam sehari, pabriknya mampu memproduksi tempe 4,5 kuintal.

“Bagi saya, memproduksi tempe 4,5 kuintal perhari ya lumayan. Karena masih di pasarkan di tiga tempat. Yakni pasar Banyuwangi, Pasar Blambangan, dan Pasar Karangrejo. Keuntungannya ya untuk kebutuhan keluarga, mengembangkan usaha, dan menggaji karyawan,” jelasnya pada Sabtu (1/12/2018).

Di pasaran, tempe kemasan 9 ons yang dia produksi dijual dengan harga Rp 6 Ribu. Meski harganya tidak mahal, dia mengaku sudah mendapat keuntungan yang cukup lumayan.

Jadi pedagang asongan setelah mengalami kebangkrutan

Sebelum menjadi asongan di Pelabuhan Ketapang, Asroni sebenarnya pernah memproduksi tempe pada tahun 1990 an. Kala itu dia masih berstatus pelajar Sekolah Tekhnik (ST). Bersama teman-teman dan tetangganya dia membuat tempe merk Tempe “Remaja”.

Secara bersama-sama, dia memproduksi tempe dengan peralatan tradisional. “Tidak ada pemilik ataupun karyawan. Tujuan awal hanya sekadar ingin mendapatkan uang saku lebih. Dan ternyata hasilnya lebih dari itu. Dulu sempat berkembang pesat dan banyak menarik minat teman-teman dan tetangga untuk bergabung memproduksi Tempe Remaja.”

Untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak. Akibat buruknya manajemen pengelolaan, Tempe Remaja yang sempat berjaya selama kurang lebih lima tahun terpaksa tutup karena tidak mampu menghadapi persaingan dan mengalami kerugian.

Usaha Kang Roni, panggilan akrabnya, akhirnya benar-benar kolaps. “Rugi sih iya. Namun tidak sampai meninggalkan hutang besar,” tuturnya.

Kegagalan usaha menyisakan sedikit trauma bagi dirinya. Setelah sekian lama menganggur, Kang Roni memilih beralih profesi menjadi pedagang asongan di Pelabuhan Penyeberangan Ketapang-Gilimanuk.

Menjajakan kacamata kepada para penumpang kapal di pelabuhan dia lakoni sekitar dua tahun lamanya. Hati kecilnya pun bergolak setelah melihat para tetangganya yang pernah bersama-sama mengembangkan Tempe Remaja masih tetap menganggur.

Kembali mencoba, gagal lagi

Tidak tega melihat kondisi tetangganya, bapak dari dua orang anak tersebut mencoba kembali merintis usaha tempe secara bersama-sama. Namun usaha yang kembali dia rintis itu agak sedikit berbeda dari apa yang dia lakoni sebelumnya.

Untuk kali ini Kang Roni mencoba memproduksi tahu tanpa merek sembari tetap melanjutkan berdagang kacamata di pelabuhan. “Pagi produksi tahu, siangnya ngasong kacamata,” ujarnya.

Usahanya yang kedua itu kembali gagal. Padahal waktu itu tahu yang dia produksi mulai berjalan lancar. Namun akibat tidak fokus karena harus membagi waktu antara memproduksi tahu dan jualan kacamata, akhirnya usaha pabrik tahu kembali bubar.

Tetap nekat dan memilih fokus berbisnis tempe

Kehancuran demi kehancuran yang di alami Kang Rony membuatnya banyak belajar dari pengalaman. Pada tahun 2000, dia kembali memproduksi tempe dengan mengajak pemuda Lingkungan Kemasan ikut bekerja.

“Saya kasihan melihat banyak pemuda pengangguran. Padahal mereka ini di masa usia produktif. Saya ingin mental mereka terasah dan bisa membiayai kebutuhan mereka sendiri,” tegasnya.

Secara telaten, Kang Rony dengan dibantu pemuda-pemuda yang bekerja dengannya fokus mengembangkan pabrik tempe hingga sekarang ini.

Kang Roni mengaku, beberapa mantan karyawannya sudah  berhasil mendirikan pabrik tempe sendiri. Warga asli Kemasan ini mengatakan tidak merasa khawatir dengan persaingan bisnis tempe yang timbul. “Karena tujuan saya salah satunya agar banyak orang yang mampu mandiri, setidaknya mental bekerjanya ada,” pungkasnya.

Bagikan Berita ini :