Kopi Gombeng, Antara Harapan dan Kenyataan

Muntaha, petani kopi Gombengsari Banyuwangi (DIAN EFFENDI/ringtimes.net)

 

 

BANYUWANGI – Memiliki 480 Hektar kebun kopi rakyat, Kelurahan Gombengsari, Banyuwangi adalah surga bagi para penikmat kopi.

Festival Kopi Lego diakui telah berhasil menarik wisatawan untuk singgah. Wisata Petik Kopi dan berjubelnya kedai milik warga semakin melengkapi keberadaan Gombengsari sebagai salah satu destinasi unggulan di Banyuwangi.

Kopi Gombeng juga menjadi komoditas unggulan yang telah dipasarkan hingga mancanegara. Pengiriman kopi ke berbagai negara di Asia seperti Jepang, Korea Selatan, China Taipei semakin menguatkan Gombengsari sebagai salah satu diantara sekian banyak kampung kopi di Indonesia.

Petani kopi asal Lingkungan Kacangan Asri, Muntaha (58), mengatakan, kedatangan wisatawan untuk menikmati seduhan kopi di kedai-kedai milik warga menjadi titik awal perluasan pasar kopi Gombeng.

“Wisatawan yang datang kan membeli bubuk kopi untuk oleh-oleh. Ternyata setelah itu mereka banyak yang telepon minta dikirim,” ujar Muntaha, pada Rabu (29/8/2018).

Menurut Muntaha, pengunjung yang datang tidak hanya sekedar berwisata. Kadang ada pemilik cafe atau kedai kopi dari daerah lain yang sengaja datang untuk berbelanja.

“Yang kita kirim ke Jepang dan negara lain itu juga untuk cafe dan dijual lagi,” ungkapnya.

Kebun kopi rakyat Gombengsari menghasilkan jenis kopi Robusta Excelsa, Buria, dan Konoga yang dikemas dengan ukuran mulai 100 gram, 250 gram, dan 500 gram.

Sedangkan bagi pemesan luar daerah dan mancanegara, petani kopi Gombengsari melayani kemasan kiloan.

Kopi Robusta Gombengsari juga dikembangkan menjadi brand kopi Luwak, kopi Jambe Nom, kopi Excelsa, kopi Robusta Original, kopi Lanang, dan kopi Konoga.

Harga yang ditawarkan juga beragam, misalnya kopi Excelsa kemasan 100 gram dijual Rp 20 Ribu. Kopi Robusta Original 100 gram dijual Rp 15 Ribu.

Dalam seminggu, Kelompok Tani (Poktan) Tunas Harapan yang dipimpin Muntaha mampu mengirim lebih dari 1 Kwintal bubuk kopi ke berbagai daerah.

“Untuk yang ke luar negeri bisa sekitar 50 Kilogram untuk kopi Luwak dan Robusta Original roasting,” jelasnya.

Terkendala Minimnya Peralatan

Sementara itu, ketua Kelompok Tani Kopi Rejo Lingkungan Lerek, Taufik, menyampaikan kendala yang dihadapi para petani kopi Gombeng.

“Proses penjemuran masih tradisional dan hanya mengandalkan cuaca. Jika musim hujan, kita tidak bisa melakukan proses pengeringan karena tidak ada yang memiliki alat pengering,” jelas Taufik.

Jika cuaca normal, proses pengeringan biji kopi membutuhkan waktu dua hari. Namun jika cuaca kurang bersahabat diperlukan waktu yang cukup lama, yakni sekitar 10 sampai 15 hari.

Jika proses pengeringan tidak berjalan dengan baik, maka biji kopi akan menjamur sehingga mengurangi aroma dan rasa.

“Termasuk juga yang paling dibutuhkan adalah mesin pemecah kulit dan mesin sangrai. Karena jika disangrai secara tradisonal, petani tidak mampu memenuhi pesanan,” tandasnya.

Perlu Akses Pasar Lebih Luas

Disamping peralatan, lanjut Taufik, para petani berharap ada pihak yang serius membantu membuka akses pasar kopi Gombeng.

Selama ini monopoli harga yang diterapkan oleh tengkulak cukup menyusahkan para petani.

“Ditingkat petani, biji kopi basah saat ini Rp 6 Ribu perkilogram. Untuk biji kopi kering Rp 21 Ribu hingga Rp 23rb perkilogram,” ungkapnya.

Meski pengiriman produk kopi ke luar daerah yang dilakukan oleh kelompok tani mulai ramai. Tapi hal itu tidak mampu menyerap keseluruhan hasil panen.

Saat ini para petani masih tetap bergantung kepada para tengkulak karena mereka hanya mampu mengolah sekitar 15 persen dari total produksi yang dihasilkan. (def) 

Bagikan Berita ini :