Korban Bullying di Banyuwangi : Saya Diejek dan Dipukuli di Sekolah

Korban bullying

BANYUWANGI – ringtimes.net melakukan investigasi tentang perilaku perundungan atau biasa disebut bullying yang masih terjadi di Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur.

Kali ini, ringtimes.net akan memaparkan ulang cerita dari seorang korban perundungan. Dia adalah salah satu siswa yang bersekolah di salah satu SMP Negeri yang ada di Kecamatan Rogojampi, Banyuwangi.

Identitas korban dan nama sekolah sengaja kami rahasiakan dengan pertimbangan perlindungan terhadap anak.

Saya memilih tinggal di kelas ketika jam istirahat

Setelah diterima bersekolah di SMP favorit ini, aku mengira, ini adalah akhir dari hinaan dan ejekan yang saya terima hampir tiga tahun lamanya saat di bangku sekolah dasar (SD).

Tapi tidak demikian kenyataannya. Justru ejekan itu kembali datang. Aku yakin, temanku yang dulu satu SD dan satu desa itulah yang menceritakan kekuranganku kepada siswa-siswa lain di SMP ini.

Tak mungkin, jika anak-anak dari luar desa mengetahui duduk persoalanku di waktu SD dulu. Sangat tidak mungkin.

Bisa dikatakan, di sekolah ini aku selalu dijauhi oleh murid yang lain. Termasuk oleh teman-teman satu kelas. Juga jadi bahan ledekan ketika dipanggil guru untuk maju ke depan.

Yang lebih menyedihkan adalah saat mereka menggosip bahwa aku pernah kerasukan jin atau sebangsa makhluk halus yang lain.

Mereka semua menjauh. Cerita tentang diriku dengan cepat menyebar, dan mereka, para siswa, hampir semuanya menghindar ketika aku dekati.

Aku lebih baik menahan lapar daripada harus pergi ke kantin saat jam istirahat. Beberapa kali pernah aku berbelanja, tapi apa yang kudapat?, teman-teman seperti jijik melihatku.

Mulai saat itu, aku memutuskan memilih tetap tinggal di kelas ketika teman-temanku yang lain memanfaatkan waktu istirahat untuk bermain dan berbelanja.

Pernah lapor kepada guru, tapi ejekan itu terus terjadi

Kejadian demi kejadian terus terjadi. Justru semakin membesar. Hampir setiap hari saya menangis. Banyak teman yang tahu, setiap ejekan itu datang hampir selalu saya menangis.

Tapi tangisan itu tidak pernah menghentikan mereka mengejek. Tetap saja.

Pernah pada suatu ketika, saya diejek oleh murid laki-laki yang juga temanku satu kelas. Terus terang, aku pun balik mengejek. Tapi kemudian, apa yang aku terima?, pemukulan. Kaki saya ditendang. Tapi tak satupun yang membela. Aku dibiarkan menghadapinya sendiri.

Dan kemudian, aku melaporkan kejadian itu ke salah satu guru. Murid itu pun mendapat teguran dan sekarang dia tidak pernah sekalipun mengulangi perbuatannya.

Tapi tidak untuk teman-teman yang lain. Tetap saja ejekan masih saya terima setiap hari.

Saya ingin berhenti sekolah

Setiap saya dihina, di hari itu aku langsung bercerita kepada ibu dan nenek. Kepada ayah aku memang jarang bercerita.

Cara dan upaya menghentikan ejekan itu hampir tiap malam dibahas di rumah. Aku ceritakan apa adanya, dan siapa-siapa yang sering memperlakukanku seperti itu.

Pernah aku sampaikan kepada keluarga, lebih baik aku berhenti sekolah karena tidak tahan dengan bullying teman-temanku.

Tapi keluarga tetap memberi semangat agar aku tetap bersekolah sambil mencari jalan terbaik untuk menghentikan ejekan itu.

Kadang orang tuaku emosi mendengar ceritaku. Pernah ibu berniat ingin melabrak anak yang mengejekku, tapi aku larang.

Aku malu jika persoalan ini menjadi lebih besar dan aku yakin justru mereka akan tambah mengejekku.

Dan hingga saat ini, dan entah sampai kapan berakhirnya ejekan itu.

Sempat ditolak ikut koor pramuka

Dan dalam hitungan Minggu terakhir ini, aku sempat ditolak untuk menjadi bagian dari anggota koor pramuka oleh teman kelompokku.

Tapi aku tidak mau. Aku memaksa ikut karena aku perlu dapat nilai prestasi di sekolah. (def/qwm)

(berita ini akan terus diperbaharui)

Bagikan Berita ini :