Lihatlah, Area Makam Agong Weles Telah Dihancurkan Penambang

Makam Agong Weles
Di atas bukit yang luluh lantak akibat penambangan inilah diyakini terdapat makam Agong Weles. (DIAN EFFENDI/ringtimes.net)

BANYUWANGI – Fakta mencengangkan tersaji ketika tim ekspedisi ringtimes.net menelisik keberadaan makam Agong Weles di Desa Gintangan, Kecamatan Blimbingsari, Banyuwangi.

Tim mulai bergerak ke lokasi di Dusun Gumukagung pada Sabtu siang (6/10/2018) dengan didampingi warga setempat, Nastain.

Setelah menelusuri jalan aspal berlubang sejauh dua kilometer, tim mulai memasuki kawasan jalan kebun yang terjal dan berdebu. Tak lama kemudian, terlihat sebuah bukit yang diyakini sebagai makam Agong Weles yang selama ini dicari. Bukit itu oleh warga disebut Gomok Weles.

Di bawah bukit itu, kehancuran terlihat di sisi selatan, barat, dan timur. Bekas cakaran-cakaran alat berat terlihat jelas di bebatuan yang masih menempel.

Lubang menganga dengan kedalaman sekitar tiga meter juga terlihat di sisi terluar. “Gomok (bukit) ini tinggal separo. Dulu besar sekali. Ke selatan sampai bekas galian pasir, tapi sekarang malah ada jalan” jelas Nastain.

Di bagian timur, bukit itu juga tinggal separo. Kondisinya sama seperti yang di sisi barat dan selatan.

“Miris sekali,” ucap Nastain.

Bendera merah putih masih berkibar

Di atas bukit terdapat dua buah bendera merah putih usang berukuran kecil. Bendera itu terpasang di ranting pohon. Dan di bawah bendera itulah terdapat tumpukan batu yang mengelilingi sebuah makam kuno.

“Inilah yang disebut warga sebagai makam Buyut Agong Weles,” jelas Nastain.

Makam Agong Weles2
Masyarakat meyakini di makam inilah jasad Agong Weles disemayamkan. (DIAN EFFENDI/ringtimes.net)

Turun dari makam, ringtimes.net mewawancarai seorang perempuan berusia 60 tahun yang sedang mencari kayu.

“Iya, ini makam Buyut Agong Weles. Bukit yang tergali ini, yang di atasnya ada makam, masuk Desa Gintangan. Yang sebelahnya masuk Desa Watukebo,” ujar Sarhama.

Sambil memotong kayu kering, dia mengatakan, bukit yang diyakini masyarakat sebagai makam Agong Weles itu telah ditambang sekitar satu bulan lalu.

“Kan miliknya orang Gintangan. Lupa saya, Pak Tuh gitu mungkin namanya,” ujarnya.

Tempat yang agung dan sakral

Mbah Giman (65), yang rumahnya tidak jauh dari Makam Agong Weles, menyebut bahwa bukit itu dulu dimiliki almarhum Badowi, asal Desa Gintangan.

“Semasa hidupnya, Pak Badowi pernah melakukan penggalian di sekitar makam karena diyakini ada benda peninggalan. Tapi setelah menggali sedalam satu meter, tiba-tiba Pak Badowi pingsan,” tandas Mbah Giman.

Lubang sedalam sekira 3 meter di salah satu sisi Gomok Weles akibat penambangan. (DIAN EFFENDI/ringtimes.net)

Dia mengaku menyaksikan sendiri proses penggalian yang dilakukan pada siang hari itu. “Pak Badowi masuk ke dalam lubang yang digali itu sambil mengaji. Lalu tidak sadarkan diri, saya pun takut dan bingung.”

Karena panik, Mbah Giman bersama Sumiran, dan seorang lagi yang dia lupa namanya, langsung mengambil air hingga tiga ember untuk disiramkan ke tubuh Badawi. Tapi upaya mereka tidak berhasil.

Tak lama kemudian, lanjut Mbah Giman, setelah peristiwa aneh itu, Badawi sakit tak kunjung sembuh dan meninggal dunia.

Sejak kecil sudah tahu makam Agong Weles

Mbah Giman mengatakan, sejak kecil dia sudah mengetahui keberadaan makam Buyut Agong Weles di bukit tersebut.

“Yang nyeritani (bercerita) ya bapak-ibu saya. Juga orang-orang tua zaman dulu. Jadi orang sini sejak kecil sudah tahu makam Buyut Agong Weles,” jelasnya.

Untuk membuktikan kebenaran pernyataan Mbah Giman, ringtimes.net melakukan penelusuran lebih mendalam dengan mewawancarai beberapa orang.

Paiman (53), tetangga Mbah Giman, juga menyatakan sejak kecil sudah mengetahui ada makam Buyut Agong Weles yang dikeramatkan.

“Mulai kecil sampai tua begini setiap malam Jumat banyak yang datang berziarah. Warga Gintangan, Watukebo, dan Bomo, ketika mau menggelar hajatan juga nyekar ke Mbah Buyut,” ujarnya.

Paiman juga mengungkapkan, setelah ada penambangan di bukit itu, banyak warga yang bercerita telah didatangi Buyut Agong Weles dalam mimpi.

“Mbah Buyut (Agong Weles) berkata; kediamanku kenapa dirusak, terus saya mau tinggal dimana?” ujarnya.

Makam Agong Weles4
Batu berserakan dampak penambangan di sekitar Gomok Weles. (DIAN EFFENDI/ringtimes.net)

Selain itu, keanehan juga terjadi saat proses penambangan. “Kuku bego-nya itu beberapa kali patah. Batunya kuat sekali. Kalau dipaksa sampai keluar percikan api,”.

Masyarakat tetap memegang teguh pesan leluhur

Ada keyakinan masyarakat yang masih dipegang teguh sampai sekarang. Yakni tidak boleh menggelar hiburan atau hajatan dengan posisi membelakangi makam Buyut Agong Weles.

Pernah ada peristiwa aneh. Yakni saat pak Sumiran, yang rumahnya di selatan bukit, menggelar pesta khitanan anaknya.

“Nah, saat itu ada tontonan video cassete tapi TV-nya menghadap ke selatan atau membelakangi makam. Waduh, hingga jam tiga pagi gak hidup. Tapi setelah posisinya digeser, langsung hidup,” kata Paiman.

Pernah juga di atas makam tersebut oleh warga sekitar akan didirikan pondok dan dipasang pagar. Tapi hanya sekitar satu minggu kemudian, bangunan itu ambruk.

“Berarti Buyut Agong Weles tidak mau di atas kuburnya ada bangunan,” ungkapnya.

Paiman menambahkan, setiap ada hajatan atau pembangunan rumah, warga setempat dipastikan datang terlebih dahulu ke makam.

Warga yang tinggal cukup jauh pun tahu itu makam Agong Weles.

Sebagian besar warga juga mengetahui lokasi makam Agong Weles di Gintangan tersebut.

Salah satunya adalah Takat (52). Meski rumahnya berjarak lebih dari 5 Kilometer dari makam, tapi dia tahu bahwa di bukit itu ada makam Buyut Agong Weles.

Kepala Desa Watukebo, Supriyadi, menyatakan hal yang sama. Dia mengaku sejak kecil sudah mengerti bahwa di bukit itu ada makam pahlawan Blambangan, Agong Weles.

Sementara itu, Kepala Pemberitaan Ringtimes.net, MH. Qowim, mengatakan pada edisi-edisi berikutnya ringtimes.net akan mengungkap lebih mendalam secara ilmiah tentang alasan munculnya dugaan kuat di Gomok Weles itulah Wong Agong Weles dimakamkan.

“Pada edisi-edisi berikutnya kita akan muat laporan khusus berbasis investigasi ilmiah tentang Wong Agong Weles, baik investigasi empiris maupun penelusuran pustaka. Sebab, itu sudah menjadi tugas ringtimes.net dalam menyambung lidah rakyat dan menyajikan sesuatu yang belum terungkap kepada pembaca secara lengkap,” tegas mantan editor bahasa Jawa Pos Radar Banyuwangi itu. (def/qwm)

Bagikan Berita ini :