Melihat Kempon, Dari Kampung Kumuh Menjadi Kampung Lukis

Wisatawan asing sedang berswafoto di Kampung Lukis Kempon Banyuwangi. (YANUAR WIDODO/ringtimes.net)

BANYUWANGI – Sebuah perkampungan kecil di wilayah Kelurahan Panderejo, Kecamatan Banyuwangi, Kabupaten Banyuwangi, kini menjelma menjadi destinasi wisata baru.

Kelurahan yang terletak di tengah Kota Banyuwangi itu kini memiliki “kampung lukis” yang sebenarnya diciptakan tanpa sengaja oleh para pemuda RT 1 RW 1 Lingkungan Kempon.

Pada awalnya, mereka hanya merasa risih melihat kondisi kampungnya yang kumuh. Karena itulah mereka akhirnya tergerak menjadikan kampungnya menjadi lebih asri dan hijau.

Bersama para pemuda, Ribut (40) dan Suriyanto (25) mengawali kerja bakti dengan bersih-bersih lingkungan.

“Kalau cuma terlihat rapi, bersih, dan bebas kumuh, semua kampung bisa. Tapi kami tambahi dengan lukisan dan mural agar membedakan dengan kampung yang lain,” ujar Ribut, pada Selasa (27/11/2018).

Awalnya, lanjut Ribut, hanya satu bagian tembok rumah milik warga yang dilukis. “itupun dengan cat seadanya. Tapi diluar perkiraan, ternyata karya lukisnya terlihat sangat bagus,” tandasnya.

Terpicu hasil positif itu, mereka langsung membentuk ikatan pemuda kampung yang diberi nama Gagak Rimang pada November 2016 silam.

Komunitas kecil tersebut fokus memperindah tampilan kampung dan berharap bisa membawa perubahan signifikan bagi lingkungan yang mereka tinggali.

“Semua lukisan dikerjakan oleh lima orang warga dengan memakai cat hasil sumbangan secara swadaya dan malah tambah banyak yang ingin dilukis temboknya,” ungkap Suriyanto, menambahkan.

Tak dinyana, lukisan di tembok rumah-rumah warga tersebut lambat laun mampu menarik minat pengunjung dari daerah lain, hingga akhirnya menjadi destinasi wisata baru di Kabupaten Banyuwangi.

Bahkan, wisatawan asing banyak yang tertarik untuk berkunjung dan berselfie dengan latar belakang lukisan-lukisan Kampung Kempon sehingga membuat Komunitas Gagak Rimang menambah pojok kuliner yang menyajikan aneka kuliner khas Banyuwangi.

“Sekarang ada 40 pedagang. Sebelumnya cuma ada 13 orang yang jualan,” terang Ribut.

Ribut menambahkan, pekerjaan rumah memang belum selesai. Masih banyak titik-titik yang perlu diperbaiki.

Dari kampung yang dulunya kumuh, kotor, dan gelap, Kempon bertransformasi secara bertahap menjadi kampung yang nyaman untuk ditinggali.

Perlahan namun pasti, warga Kempon bertekad menjadi Berdikari secara ekonomi di rumahnya sendiri dengan manajemen yang terukur dan terencana.

“Kampung Lukis ini dikelola seprofesional mungkin oleh Gagak Rimang. Juga banyak sumbangan dan donasi dari berbagai pihak. Jadi setiap bulan kita buat laporan kas keluar masuk yang diumumkan pada saat rapat rutin,” tutupnya. (YNW/DEF/QWM)

Bagikan Berita ini :