Ngalih Ring Alihan (Aliyan)

Ilustrasi pejuang dari Desa Aliyan dalam Perang Bayu

Sebuah desa dengan derap kebangkitan seni dan kesenian yang tak diragukan lagi. Sebuah tradisi lama yang dikemas dengan nuansa baru, demi melestarikannya di era global.

Alyian bukan sebuah desa yang baru terbentuk kemarin sore atau yang baru mencari jatidirinya. Aliyan adalah sebuah desa tua yang terus berupaya mempertahankan tradisi dan budayanya. Mereka berusaha menjadikan kearifan lokalnya sebagai kearifan global. Sah-sah saja jika kita berharap demikian, karena berharap adalah fitrah manusia, maka berharaplah sebelum harapan-harapan itu dilarang.

Desa di sudut barat daya Kecamatan Rogojampi itu sangat beruntung memiliki peninggalan catatan-catatan lama dan jejak-jejak sejarah di wilayahnya. Sebuah desa yang sangat erat dengan abad kejayan Balambangan di tangan raja terbesarnya yang ketiga, Susuhunan Prabu Tawangalun II, bergelar Pangeran Macanputih I yang berkuasa antara tahun 1655-1691.

Babad Tawangalun menyebutkan bahwa Pangeran Tawangalun yang pada waktu itu menjadi Pangeran Kedhawung V memilih mengalah kepada adiknya dan kemudian membuka pemukiman baru di Hutan Bayu bersama 40 orang pengikutnya.

Setelah itu Pangeran Tawangalun bertapa di ‘pangabekten’ di kaki Gunung Raung. Setelah tujuh malam bertapa, beliau mendengar suara bahwa; ‘Seekor harimau putih akan membawanya ke hutan Sudimara. Tempat kerajaan yang baru; Macanputih’.

Selama tujuh hari beliau berjalan sebelum kemudian bertemu dengan Macanputih tersebut. Dengan naik di atas punggung Harimau itu, akhirnya beliau sampai di hutan Sudimara. Selanjutnya bersama penduduk Bayu beliau membangun kota baru di tempat tersebut selama lima tahun sepuluh bulan (1655-1661).

Ibukota Balambangan kemudian dipindahkan ke Macanputih. Penduduk dari Kuthadawung (Paleran Umbulsari Jember) di barat Gunung pun ikut pindah ke Macanputih di timur Gunung. Semakin lama semakin banyak penduduk yang ikut pindah hingga mencapai lebih dari 2.000 jiwa.

Demikianlah mereka membangun desa-desa baru. Beberapa diberi nama yang sama dengan nama kota mereka yang lama, Dawung. Maka muncullah Kedhawung Sraten, Kedhawung Aliyan, dan Kedhawung lainnya. Juga desa-desa tua seperti Sratian (Sraten), Alihan (Aliyan), dan sebagainya. Itu semua terjadi antara tahun 1655-1665.

Babad Sembar juga menjelaskan bahwa Sunan Tawangalun II yang terkenal mulia dan besar kekuasaannya memerintah negeri yang membentang dari laut yang satu (Laut Madura) ke laut lainnya (Laut Selatan). Balambangan menjadi negeri yang sangat makmur dan kuat di masa kepemimpinannya. Bahkan perjuangan Trunajaya dan Karaeng Galesong-pun membutuhkan bantuannya.

De Graff dalam bukunya menyebutkan bahwa Balambangan mengirim 2.000 prajurit ‘Jagabela’ dan 500 gerobak bahan pangan untuk menakhlukkan Mataram pada tahun 1675. Demikian pula perjuangan I Gusti Agung Made Agung raja Mengwi juga meminta bantuan dari Blambangan.

Balambangan juga mengirim 3.000 lebih prajurit ‘Jagabela’ bersenjata keris emas untuk membantu Mengwi menghadapi serangan I Gusti Dewa Pacekan pada tahun 1655-1660 dari Gelgel.

Kekuatan Balambangan dimasa Tawangalun II sangat digdaya. Hal itu tidak dapat dipisahkan dari kesadaran bela negara penduduknya. Berpindahnya rakyat Kuthodawung (di barat gunung) ke Macanputih (di timur Gunung), termasuk diantara mereka adalah penduduk dari Aliyan, Kedawung, dan Sukodono.

Siapa yang memimpin pembabatan hutan di Alihan?, tidak ada catatan tentang itu. Namun kita bisa mengacu kepada cerita rakyat tentang tokoh bernama Ki Wiradigdaya.

Tokoh ini diperkirakan hidup pada era Susuhunan Prabu Tawangalun II. Jika dilihat dari namanya, Ki Wiradigdaya mirip dengan Senapati Balambangan, Widigdaya Siding Betawi, nama lain dari Menak Luput, saudara dari Prabu Menak Lumpat (1575-1639). Artinya, Ki Wiradigdaya kemungkinan adalah cucu dari Senapati Widigdaya Siding Betawi dan sepupu dari Prabu Tawangalun II.

Jika dilihat dalam buku Perebutan Hegemoni Blambangan yang mengutip catatan ANRI Arsip Daerah Residensi Banyuwangi no.7, di Kemantren Ragajampi terdapat sebuah desa bernama ‘Kulikalian’.

Kata ‘kulik’ dalam ‘kulikalian’ secara toponimi mirip dengan kata ‘kulih’ yang dalam Kamus Bahasa Using Hasan Ali berarti “kembali seperti semula”. Karena catatan kompeni tersebut dibuat pada masa kekuasaan Residen Lodewijk Uittermoole dan Gezaghebber Surabaya, R. Fl. Van der Niepoort (1772-1784) atau pada era kekuasaan Mas Alit.

Kata kulih tersebut menunjukkan bahwa di Aliyan pernah terjadi peristiwa yang menyebabkan kerusakan besar dan kemudian dibangun kembali sehingga pulih atau kembali seperti sedia kala. Kejadian apakah itu?.

Peristiwa itu bisa kita simak dalam Babad Bayu yang memuat daftar kepala desa yang terlibat dalam Perang Bayu tahun 1771-1772 bersama Mas Rempeg Jagapati.

Disana terdapat nama Kepala Desa Alihan saat itu, yaitu Ki Kidang Garingsing. Kita mungkin dapat menghubungkan nama Ki Kidang Garingsing dengan nama salah satu ksatria Macan Putih era Prabu Danuningrat (1736-1764), Arya Girisena.

Jadi dapat disimpulkan bahwa Ki Kidang Garingsing alias Arya Girisena hidup pada jaman Agung Wilis hingga Rempeg Jagapati (1705-1774).

Karena pada jaman dahulu,  kekuasaan selalu diwariskan turun temurun, maka Ki Kidang Garingsing alias Arya Girisena kemungkinan adalah cucu dari pembabat desa Alihan, Ki Wiradigdaya.

Berdasarkan data dan catatan tersebut, dapat dipastikan bahwa penduduk Alihan juga terlibat dalam Perang Bayu untuk mempertahankan kemerdekaan Balambangan dari serbuan tentara kompeni Belanda dan sekutunya.

Heroisme dan kegigihan rakyat Alihan melawan penjajah itulah menyebabkan penduduknya ikut dibantai oleh Belanda dan desanya termasuk yang dibumihanguskan oleh penjajah.

Lalu siapa yang membangkitkan kembali Alihan pasca pembumihangusan hingga menjadi seperti sediakala?. Dalam Suluk Balumbung disebutkan bahwa beberapa trah Bhumi Wongso yakni abdi dalem Keraton Lateng selamat dari perang di Nusabarong tahun 1777 dan kemudian kembali ke desa mereka.

Diantara mereka memakai nama ‘Wangsa’ pada namanya. Seperti Wangsataruna, Wangsakarya, Wangsamranggi, Wangsanyarawedi, Wangsagardji, Wangsangapus, Wangsargending, Wangsakenanga, dan sebagainya.

Apakah Buyut Wangsakenanga yang makamnya berada di Aliyan adalah orang yang sama dengan Ki Wangsakenanga, salah satu dari trah Bhumi Wangsa?.

Dugaan saya adalah demikian adanya. Dengan begitu, dapat diperkirakan bahwa Buyut Wangsakenanga atau Ki Wangsakenanga adalah orang yang membangkitkan kembali desa Alihan.

Karena saat dilakukan pendataan jumlah penduduk pada masa Residen Lodewijk Uittermoole, Desa Alihan telah berbenah dan telah seperti sediakala.

Orang luar desa menyebutnya Kulih Alihan atau Kulikalian. Sedangkan orang Alihan sendiri tetap menyebut desa mereka dengan nama Alihan yang kemudian kini dikenal sebagai Desa Aliyan.

Tentang bagaimana nasib Ki Kidang Garingsing, tidak ada penjelasan lebih lanjut. Apakah beliau ikut gugur di medan laga, ataukah ikut tertangkap dan dibawa ke Teluk Pampang dan dibunuh disana, atau selamat dan ikut mengungsi ke Pulau Nusabarong.

Demikian pula tentang bagaimana nasib Buyut Wangsakenanga selanjutnya. Tidak ada yang tahu. Yang jelas, Alihan atau Aliyan atau Kulikalian menyimpan sejarah panjang perjuangan yang lengkap.

Sejak mulai dibangunnya Kutharaja Macanputih pada tahun 1655 hingga meredupnya wibawa Balambangan pada tahun 1774 usai Perang Bayu. Sah-sah saja jika kemudiaan rakyat Aliyan menyebut desanya sebagai Desa Banyuwangian (Banyuwangen) karena mereka memang menyimpan keluhuran sejarah yang utuh dan lengkap.

Dari tulisan singkat ini, kita dapat mengambil kesimpulan bahwa nama Aliyan berasal dari kata Alihan yang telah berdiri pada era Susuhunan Prabu Tawangalun II (1655-1691) yang bermakna ‘Pindah’ atau ‘Dipindahkan’. Yakni pindah dari Kutharaja lama di barat gunung ke Kutharaja baru di timur gunung yang dipimpin Ki Wiradigdaya atas perintah Susuhunan Prabu Tawangalun II.

Pada perang Bayu tahun 1771-1774, desa Alihan yang dipimpin oleh Ki Kidang Garingsing alias Arya Girisena juga turut berjuang bersama Mas Rempeg alias Pangeran Jagapati III dan pejuang yang lain, sehingga Aliyan termasuk desa yang dibumihanguskan oleh kompeni.

Setelah perang berakhir, Desa Alihan dibangun kembali oleh Ki Wangsakenanga atau Buyut Wangsakenanga sehingga saat Residen Lodewijk Uittermoole mengadakan pendataan jumlah penduduk di desa-desa bekas wilayah Kerajaan Balambangan sekitar tahun 1774-1784, maka Alihan sudah ‘Kembali seperti sediakala’ dan dicatat dengan sebutan Desa Kulihalian atau Kulikalian.

Desa Aliyan atau sebutan yang lain sudah berdiri sekitar 119 tahun sebelum lahirnya Kota Banyuwangi pada tahun 1774 atau 116 tahun sebelum peristiwa Perang Bayu pada tahun 1771. Umur Desa Aliyan sama dengan Kutharaja Macanputih yang didirikan antara tahun 1655-1661. Aliyan diperkirakan sudah ada sejak jaman keemasan kerajaan Balambangan, pada era kepemimpinan Susuhunan Prabu Tawangalun II (1655-1691).

Pendiri desa Aliyan bisa saja seperti dalam cerita rakyat, yakni Ki Wiradigdaya yang seorang pendatang dari barat. Sedangkan pendiri desa Kulihalian (Kulikalian) bisa jadi adalah Buyut Wangsakenanga (Ki Wangsakenanga) dari Trah Bhumi Wangsa, abdi dalem Keraton Lateng.

Semangat menyejahterakan rakyat seperti Ki Wiradigdaya dan spirit menjaga kedaulatan negara seperti yang dilakukan Ki Kidang Garingsing (Arya Girisena), serta spirit pembangunan seperti Ki Wangsakenanga (Buyut Wangsakenanga) itulah yang merupakan karakter asli penduduk Desa Aliyan dahulu dan diharapkan akan terus diwarisi oleh generasi penerusnya. (*)

 

Oleh : M Hidayat Aji Wirabhumi. Pemerhati sejarah Blambangan

Ditulis di Keradenan, 6 September 2018 dan disampaikan dalam sarasehan sejarah “Ngalih ring Alihan”, di Kantor desa Aliyan, 8 September 2018.

Bagikan Berita ini :