Ongkos Murah Pembatik dan Gemerlap Banyuwangi Batik Festival

Seorang model dalam Banyuwangi Batik Festival. (BAPPEDA BANYUWANGI)

BANYUWANGI – Supiah, perempuan tua asal Kelurahan Temenggungan, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur bercerita tentang keluh kesah menjadi seorang pembatik.

Ibu dari tiga orang anak ini mengaku telah menjadi pembatik motif khas Banyuwangi lebih dari 40 tahun lamanya. Pekerjaan itu dilakoninya semata untuk menambah penghasilan keluarga.

Jika dirata-rata, Supiah memperoleh upah sekitar Rp 300 Ribu perbulan. “itu belum ditambah bonus-bonus yang lain.  Semakin banyak pesanan, semakin banyak bonus yang saya terima,” jelasnya.

Meski penghasilannya tergolong rendah, Supiah mengaku tetap mensyukuri apa yang Ia dapat dari membatik.

“Tapi semua pembatik ingin ongkos naik. Apalagi, katanya, sekarang batik Banyuwangi ramai pesanan, tentu upah seharusnya naik,” harapnya, pada Minggu (4/11/2018).

Jangan hanya berpihak ke pengusaha.

Peran penting para pembatik tentu tidak boleh disepelekan. Nasib mereka harus lebih disoroti ketimbang hiruk pikuk penyelenggaraan Banyuwangi Batik Festival (BBF).

Pendapatan Rp 300 ribu perbulan tentu sangat jauh dari kata layak. Apalagi dibandingkan dengan peran mempertahankan eksistensi batik Banyuwangi itu sendiri.

Pengelenggaraan BBF yang menghabiskan anggaran ratusan juta rupiah, diklaim mampu meningkatkan produksi batik Banyuwangi.

Namun, jika melihat rendahnya upah pembatik, seperti yang dikatakan Supiah, sangat bertolak belakang dengan gaung BBF yang sering mendatangkan artis papan atas.

Apresiasi untuk Bupati Anas

Upaya Bupati Abdullah Azwar Anas mengenalkan batik Banyuwangi dengan BBF mendapat apresiasi dari para pembatik.

“Ya karena Pak Anas, setiap tahun (digelar BBF, red)  tujuannya agar batik-batik Banyuwangi bisa lebih terkenal sampai ke luar negeri,” tambah Supiah.

Menyambut BBF yang akan digelar pada 17 Nopember 2018, Supiah mengaku tetap bersemangat mengerjakan batik Sayu Wiwit yang katanya akan dipakai oleh para model di atas catwalk .

Supiah mengaku, peningkatan omzet penjualan batik made in Temenggungan memang berpengaruh bagi para pembatik.

“Saya sangat bersyukur dengan Banyuwangi Batik Festival karena banyak sekali yang meminati batik karya kami,” pungkasnya. (ERA/DEF/QWM)

Bagikan Berita ini :