Politik Pecundang untuk Para Pemenang

Ilustrasi Opisisi (dakwah. com)

Oleh : Dian Effendi

Pemimpin desa dan mantan calon kepala desa yang kalah, saling hantam. Baku pukul. Saling serang. Pokok keliru-keliru sedikit, viral di sosmed.

Fenomena seperti itu biasa saja. Dalam dunia politik memang seperti itu. Mungkin takdir. Tidak ada teman abadi, apalagi lawan abadi. Semua berputar karena kepentingan.

Yang kalah, yang kecewa bersekongkol. Menyerang yang menang. Padahal dulu, saat menjelang Pilkades, mereka itu, baik yang menang, atau yang kalah itu, adalah musuh. Semua dianggap musuh.

Jadi kita tidak perlu heran. Namanya oposisi, harus jadi pengkritik. Tapi yang tajam. Harus gentleman. Jangan asal ngomong sukur melendhong (ngomong tanpa dasar, tanpa solusi).

Kepala desa yang terpilih juga harus tahu diri. Mereka itu, orang-orang yang kalah, yang kecewa itu, harus didengar kritiknya. Siapa tahu benar.

Untuk pendukung calon yang menang, juga harus siap jadi objek kritik. Tapi, dengan satu catatan, kritiknya harus jelas. Apa, siapa, kapan, semuanya harus jelas. Insya Allah akan terima.

Tapi, mereka-mereka itu, katanya memiliki cara yang lucu. Mirip anak kecil. Berdalih memperjuangkan hak dan kewajibannya sebagai warga, seharusnya langsung saja tunjuk hidung.

“Hey, Lurahmu itu salah. Harusnya begini begitu.”

Nah, mending ucapkan kritikan pedas seperti itu, daripada cuma berani sindir-sindir tidak jelas akar persoalannya.

Yang lebih lucu lagi, yang membaca tulisan ini pasti akan tertawa cekakan. Kalau gantian mereka yang menjadi objek kritik, byek, langsung mempeng (ngamuk), tak lama kemudian ngambul, terus pamitan keluar grup atau mematikan facebook.

Dalam hidup bermasyarakat, apapun namanya, baik itu soal politik, tentang sejarah, atau dalam hal apapun, beda pendapat itu biasa.

Kita hidup di negara demokrasi. Setelah reformasi, kita jadi bebas berpendapat, mau ngomong apapun, boleh. Tidak ada yang melarang. Asal jelas, tidak menghina, dan mencemarkan nama baik orang lain.

Indonesia juga bukan negara seperti Arab Saudi, yang putra mahkotanya, diduga kuat menjadi dalang pembunuhan wartawan senior Jamal Khashoggi.

Kecewa karena kalah dalam pertarungan politik itu takdir. Belajarlah menjadi pemenang, jangan suka menjadi pecundang.

Bagikan Berita ini :