Penjualan Es Dawet Oseng Tembus 25 Ribu Gelas

Seorang pekerja tengah menunjukkan kemasan Dawet Osing di Desa Mangir, Banyuwangi. (Foto : DIAN EFFENDI/Ringtimes)

BANYUWANGI – Pada bulan Ramadan 1439 Hijriah, produksi dawet Oseng mengalami peningkatan signifikan. Khusus di pasar lokal Banyuwangi, penjualan menembus angka 25 ribu gelas per hari.

Produsen dawet Oseng di Desa Mangir, Kecamatan Rogojampi, harus menambah tenaga kerja harian untuk memenuhi target produksi selama Ramadan.

“Saat ini ada 12 orang warga yang kami karyakan. Ada yang mengirim ke pasar, tukang bungkus, dan produksi,” ungkap Gunawan, produsen dawet Oseng, Sabtu (26/5/2018).

 

Dengan 12 karyawan, dawet Oseng diproduksi sebanyak 5 Ribu kemasan besar. Nah, kemasan besar itu bisa dijadikan lima gelas es dawet yang dijual dengan harga Rp 2 Ribu per gelas.

 

Sebenarnya, permintaan pasar bisa menembus angka 50 Ribu gelas per hari atau mendekati kisaran 5 persen dari jumlah penduduk di Kabupaten Banyuwangi.

 

Namun upaya untuk meningkatkan kapasitas produksi terkendala pada kecepatan proses pembungkusan.

 

Dikerjakan secara manual

 

Menurut Umiyati, istri dari Gunawan, semua proses produksi dikerjakan secara manual. Adonan bahan baku diolah di atas tungku pemanas yang diaduk oleh dua orang pekerja.

 

Selanjutnya, sebagian besar pekerja bertugas membungkus dawet ke dalam kemasan plastik yang diikat dengan tali rafia. “Kemampuan maksimal satu orang dapat 500 bungkus,” ujar Umiyati.

 

Salah satu pekerja, Evi, mengatakan, ongkos satu bungkus dawet Oseng adalah Rp 200. Jika dikalikan 500 bungkus, maka setiap pekerja mendapat penghasilan Rp 100 Ribu per hari.

 

Distribusi ke pasar-pasar di Banyuwangi

 

Produsen dawet Oseng tidak langsung menjual produknya ke pedagang es. Melainkan mendistribusikannya ke pedagang pasar.

 

“Bagi-bagi rejeki lah. Kita jual ke pedagang pasar, nanti mereka menjual ke pedagang es dawet,” ujar Umiyati.

 

Untuk setiap bungkus dawet kemasan besar, oleh pedagang pasar dijual Rp 3.500 per bungkus. Sedangkan oleh pedagang es dawet keliling kemasan besar diproses menjadi 5 gelas yang dijual Rp 2 Ribu per gelas.

 

Awal produksi es dawet Oseng dilakukan pada tahun 2016 oleh pasangan suami istri Gunawan dan Umiyati asal Desa Gintangan, Kecamatan Blimbingsari.

 

Berkat ketelatenan keduanya, kini produk dawet Oseng telah menguasai pasar di Banyuwangi.

Selain menggunakan bahan-bahan alami, dawet Oseng memiliki rasa yang khas yang disukai masyarakat bumi Blambangan. (*)

 

Bagikan Berita ini :