Ternyata di Rogojampi Ada Es Dawet Zaman Soekarno

Dawet Buung
Suryo, pewaris es dawet legendaris "Buung" di Lateng, Desa Gladag, Banyuwangi. (DIAN EFFENDI/ringtimes.net)

BANYUWANGI – Warung kecil beratap asbes itu kini tak seramai dulu. Tapi bagi Suryo (55), jualan es dawet warisan orang tuanya harus tetap berjalan.

“Kalau pas rame, sehari bisa 200 mangkuk. Kalau dulu bisa sampai seribu mangkuk,” jelas Suryo sambil menyajikan semangkuk es dawet pada Kamis (27/9/2018)

Masyarakat Kecamatan Rogojampi, Banyuwangi, yang saat ini berusia diatas 40 tahun, lanjut Suryo, tentu pernah merasakan segarnya es dawet “Buung” yang terletak di selatan perempatan Lateng, Desa Gladag, itu.

“Warung ini dibangun awal tahun 1960-an. Tapi sebelumnya almarhum bapak sudah berjualan di sini. Tapi masih dipikul,” ungkapnya.

Pada tahun 1970 hingga akhir tahun 1990-an, es dawet Buung masih menjadi minuman favorit warga setempat. Terutama bagi pelajar SMP dan SMA di Rogojampi.

“Dulu setiap pulang sekolah ya mampir dulu ke Buung. Kalau tidak minum dawet Buung seperti ada yang kurang,” ujar Suwito (58) asal Desa Gladag.

Kualitas rasa luar biasa

Suryo mengakui, faktor modal menjadi penyebab usahanya jalan di tempat. Namun demikian, dia tetap bersyukur karena mampu mempertahankan pelanggan setianya.

“Kalau anak muda memang jarang kesini. Mungkin tidak tau. Tapi kalau pelanggan tua, masih banyak,” ungkapnya.

Dan kemudian, ringtimes.net mewawancarai dua orang yang kebetulan sedang duduk santai sambil minum es dawet Buung.

“Yang pertama, gulanya murni tidak pakai pemanis buatan. Yang kedua, bahan baku dawetnya ini asli dan mulai dulu tidak berubah. Yang paling penting, harganya juga murah. Cuma Rp 4 ribu per mangkuk,” ujar Sholeh.

Sementara itu, menurut pelanggan yang lain, Mat Cholil, keunikan es dawet Buung adalah proses penyajian yang masih menggunakan alat-alat tradisonal.

“Yang paling unik itu penjualnya lucu. Luar biasa sopan dan selalu pakai bahasa Oseng yang aneh,” jelasnya.

Usai wawancara, tak lama kemudian dua orang itu pun beranjak dan menanyakan berapa nominal yang harus dibayar.

“Rp 20 juta, Bung. Dawete petang ambeng, setelane papat (Rp 20 juta, Bung. Dawetnya empat mangkuk, kuenya empat, red),” kata Suryo.

Lantas apa hubungannya dawet Buung dengan zaman Bung Karno? ringtimes.net akan menyajikannya pada edisi berikutnya. (def/qwm)

Bagikan Berita ini :