Zen Kostolani; Jadilah Pribadi Mandiri Asal Jangan Lupa Salat

Plt Kepala DPMD Banyuwangi, Zen Kostolani. (KOLEKSI PRIBADI)

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (DPMD), Zen Kostolani, merupakan sosok pekerja keras dan mandiri. Dulu, pria kelahiran 8 September itu sebenarnya memiliki orang tua yang dikatakan “bekercukupan”.

Sejak remaja Ia mengaku sudah diajarkan untuk hidup mandiri dan tidak selalu bergantung kepada orang tua.

Zen kala itu berprinsip, apabila nanti orang tuanya telah tiada, maka dia harus mampu menjadi pribadi yang mandiri dan bertanggung jawab.

“Kami disiapkan untuk menjadi pribadi yang bertanggung jawab. Istilahnya menjadi pribadi yang mandiri. Kita tidak mungkin membebani dan ikut orang tua terus. Dibiayai itu ada batasannya. Pada saatnya kita harus bertanggung jawab untuk menjadi orang yang mandiri,” ungkap Zen, pada Senin (19/11/2018).

Saat kuliah, Zen pernah nyambi menjadi sales rokok. Sepulang kuliah, dia harus berkeliling ke warung-warung untuk menitipkan barang dagangannya.

Dengan telaten, Zen melakoni pekerjaannya tanpa mengenal lelah. Bahkan, Ia sempat menyewakan sepada motornya untuk menambah pundi-pundi penghasilan meski hanya cukup untuk makan.

Dia mengaku ada kebanggan tersendiri ketika bisa hidup mandiri. Hal itu ditunjukan oleh Zen dengan berprofesi menjadi sales buku di PT Meka Tamaraya dan PT Intan Pariwara.

Mendirikan usaha Kopi Nerleka

Saat menjadi mahasiswa, pria yang dikaruniai tiga anak itu berhasil mendirikan usaha kecil untuk memproduksi kopi bubuk merk Nerleka.

Nama Nerleka terinspirasi dari bahasa pra sejarah yang memiliki arti kopi kuno. Dalam angannya, Zen berkomitmen berjualan kopi tanpa mengandung bahan pengawet.

“Kopi itu setelah di goreng langsung dibungkus plastik dan tidak menggunakan campuran bahan pengawet lagi,” ungkapnya.

Sayangnya, usaha tersebut akhirnya ditutup karena Zen lebih memilih berkarir dibidang lain.

“Sebenarnya apabila ditekuni (dilanjutkan, red) akan menghasilkan keuntungan yang sangat besar. Tetapi pada saat itu saya tinggalkan dan memilih ikut tes CPNS,” jelasnya.

Pernah menjadi petugas KB

Untuk mencapai jabatan Plt Kepala DPMD tentu membutuhkan proses yang cukup panjang. Zen tidak menyangka akan menjadi seorang pemimpin di lembaga pemerintah.

Zen pada saat itu hanya mengikuti panggilan hati untuk tetap semangat meniti karir sebaik mungkin.

“Saya lulus kuliah tahun 1990, kemudian ikut tes CPNS tahun 1992 dan diterima di Kantor BKKBN Jakarta. Awalnya saya menjadi pekerja lapang. Masuk rumah ke rumah mensosialisasian program KB. Resminya diangkat PNS pada tahun 1993,” ujarnya.

Menjadi petugas lapangan KB Ia ditekuni selama hampir sebelas tahun.

Seiring berjalannya waktu, dengan modal disiplin dan integritas tinggi, Zen pernah menjadi Camat Purwoharjo, Glenmore, Srono, dan Genteng. Sebelum menduduki jabatan tertinggi di DPMD Banyuwangi sekarang ini, dia sebelumnya menduduki jabatan sekretaris.

Kuliah di Unud dan Unair

Zen juga pernah mengalami masa-masa sulit. dia pernah gagal masuk Fakultas Hubungan International. Setahun kemudian, Ia kembali mencoba kembali mengikuti tes perguruan tinggi. Sayangnya, Tuhan berkehendak lain. Dia kembali gagal dan akhirnya masuk pada pilihan kedua di FKIP Universitas Udayana (Unud).  

“Saya melanjutkan S2 di Pelayanan dan Publik Universitas Airlangga,” tandasnya.  

Agama menjadi tuntunan

Orang tua memiliki peran penting dalam membimbing anaknya. Begitupula yang dilakukan oleh orang tua Zen Kostolani.  

Sejak kecil, orang tuanya membimbing anak-anaknya untuk menomor satukan agama.

Hal ini terlihat bagaimana Ia bersekolah di Madrasah Ibtidaiyah, Madrasah Tsanawiyah,dan Madrasah Aliyah. Zen juga sempat nyantri dan harus berpisah dengan kedua orang tuanya.

Zen mengenang ketika mendiang ayahnya masih hidup. Setiap pulang kerja, Zen selalu diingatkan untuk tidak meninggalkan shalat berjamaah.

“Ayah membuat aturan harus salat jamaah di rumah, minimal maghrib, isyak dan subuh. Pernah adik saya perempuan baru sampai rumah ketika salat jamaah usai. Ayah langsung menyuruhnya mencari dan mengumpulkan orang di kampung yang belum salat untuk diajak berjamaah,” ungkapnya.

Apa yang ditanamkan oleh orang tuanya, oleh Zen juga diterapkan di internal keluarganya dan di lingkungan tempatnya bertugas.  Terutama terkait kesiplinan salat berjamaah.

“Jangan lelah untuk mengajak kebaikan. Manfaat salat berjamaah sangat luar biasa. Nanti kita akan merasakan mukjizatnya,” ucapnya. (NRL/DEF/QWM)

Bagikan Berita ini :