Pesta Miras Malam Takbir di Banyuwangi

Kapolres Banyuwangi, AKBP Donny Adityawarman. (Foto : DIAN EFFENDI/ringtimes)

BANYUWANGI (ringtimes.net) – Dalam wawancara singkat melalui pesan telepon pada hari Rabu (13/6/2018), Kepala Polisi Resort Banyuwangi, Ajun Komisaris Besar Polisi (AKBP) Donny Adityawarman menyatakan akan menindak tegas siapapun yang menggelar pesta minuman keras di malam 1 Syawal 1439 Hijriah.

“Kalau (pesta) minum miras tidak perlu himbauan lagi. Langsung tangkap, biar sekalian (pelaku) tidak berlebaran,” ujar AKBP Donny Adityawarman.

Untuk menjaga keamanan dan meminimalisir pesta miras yang biasa dilakukan pada malam takbir, seluruh anggota kepolisian di 25 Kepolisian Sektor (Polsek) di Banyuwangi akan menggelar patroli dan sweeping.

Peran Babinsa (TNI) dan Bhabinkamtibmas (Kepolisian) dalam menjaga keamanan setiap desa juga sangat penting untuk menghimbau warga desa untuk tidak menggelar pesta miras di malam takbir.

Kepolisian berharap, masyarakat ikut berpartisipasi dalam menjaga keamanan di lingkungannya masing-masing. Salah satunya dengan melaporkan adanya pesta miras kepada aparatur desa, kepolisian, atau TNI.

 

Kebiasaan buruk yang terus berulang

Di Banyuwangi, pesta miras seperti menjadi tradisi yang “wajib digelar” pada malam takbir. Sebagian besar warga menganggap malam lebaran adalah waktu yang tepat untuk berkumpul, bergembira, berpesta, sekaligus untuk merayakan kemenangan.

Untuk menggelar pesta miras, biasanya para pemuda melakukan iuran sukarela atau sesuai dengan nilai yang telah ditentukan. “Mau berapa banyak beli minumannya, nanti iurannya menyesuaikan,” jelas F (30), pemuda asal Kecamatan Blimbingsari.

Donatur terbesar biasanya diberikan oleh pemuda perantauan yang mudik ke kampung halaman. “Kangen kumpul dengan teman-teman di kampung. Malam takbir biasanya kita berkumpul, berbagi cerita, nyanyi-nyanyi sambil minum. Biasanya saya yang belikan (minuman), kalau kurang, teman-teman yang nambahi,” ungkap Z, pemuda asal Gintangan yang merantau di Bali.

Para pemuda biasanya menggelar pesta miras di pinggir jalan, di warung-warung, di pinggir pantai, di lapangan, bahkan ada yang di tengah sawah. Tempat untuk berpesta miras tidak harus ditentukan sebelumnya.

“Pokoknya bisa untuk santai sampai pagi. Yang lebih penting aman dari pantauan Polisi,” ungkap F.

 

Mengganggu, Memalak, dan Sering Adu Jotos

Kejadian buruk kerap terjadi akibat pesta miras di malam takbir. Warga yang “ketempatan” atau tak jauh dari lokasi digelarnya pesta miras mengaku was-was karena sering terjadi keributan.

“Sangat mengganggu. Kadang mereka membunyikan musik keras sekali, nyanyi-nyanyi seenaknya sampai pagi. Kita mau mengingatkan juga tidak berani,” jelas M, warga Desa Blimbingsari.

Bahkan dari pengakuan M, mereka sering menghentikan pengendara yang melintas untuk dimintai uang untuk beli minuman.

“Kalau tidak diberi, bisa saja mereka marah dan memukul,” tandas M.

Terkadang, saat pesta miras berlangsung pernah terjadi peristiwa keributan hingga berujung adu jotos. Terkadang, pesta miras itu sengaja dilakukan untuk mengumpulkan para pemuda dan untuk menyerang gerombolan pemuda lain.

 

Pedagang menambah stok dan harga miras dinaikkan

Menjelang malam takbir, beberapa pedagang mengaku menambah stok persediaan miras. Di Banyuwangi, miras yang paling dicari adalah Arak Bali dan Tuak.

Salah satu pedagang miras di Kecamatan Rogojampi mengaku penjualan miras pada malam takbir biasanya meningkat hingga 300 persen dibanding hari-hari biasa.

“Naik harganya, biasanya Rp 20 Ribu per botol, malam takbir bisa kita jual antara Rp 25 Ribu sampai Rp 30 Ribu,” jelasnya.

Dalam satu malam, dia mengaku bisa menjual 200 botol lebih. “Itu belum termasuk campurannya,” jelasnya. (DEF/C1)

Bagikan Berita ini :