Kisah Mengenalkan Pahlawan Blambangan

Lomba mewarnai sosok Pahlawan Blambangan di Desa Gintangan (foto: Dian Effendi/ringtimes.net)

BANYUWANGI – Tidak ada nama Agung Wilis, Rempeg Jogopati, dan Sayu Wiwit di buku sejarah yang diajarkan di sekolah. Di Banyuwangi, Jawa Timur, ketiga sosok itu adalah pemimpin perlawanan rakyat Blambangan terhadap VOC.

Heroisme perjuangan rakyat Blambangan seperti hilang dari catatan sejarah Indonesia. Hanya segelintir rakyat di wilayah Tapal Kuda (Banyuwangi, Jember, Situbondo, dan Bondowoso) yang mengetahui bahwa VOC telah menghabiskan biaya 80 ton emas untuk berperang melawan rakyat Blambangan.

Khusus di Banyuwangi, sebagian masyarakat telah mengetahui bahwa pada tahun 1771-1772 telah terjadi peristiwa Perang Bayu. Bersama Rempeg Jagapati dan Sayu Wiwit, ribuan rakyat Blambangan gugur. Penduduk Blambangan saat itu berjumlah sekitar 50 ribu dan hanya tersisa kurang dari 6 ribu jiwa setelah perang.

Untuk memperingati Perang Bayu dan perjuangan rakyat melawan VOC, Pemerintah Kabupaten Banyuwangi menjadikan tanggal 18 Desember 1771 sebagai Hari Jadi Banyuwangi (Harjaba).

Siapa yang Konsisten Mengenalkan Pahlawan Blambangan?

Saat pelajaran Bahasa Oseng masuk dalam kurikulum pendidikan di Banyuwangi, sejarah tentang Blambangan dan pahlawannya juga dikenalkan kepada para siswa.

Namun setelah pelajaran Bahasa Oseng dihapus, sejarah tentang pahlawan Blambangan turut lenyap. Saat ini sebagian besar anak-anak dan pelajar tidak mengenal pahlawan yang berasal dari daerahnya sendiri.

Beruntung Banyuwangi memiliki komunitas pecinta sejarah. Grup facebook Banjoewangie Tempo Doeloe (BTD) yang dibuat oleh Munawir mampu menghilangkan asa rakyat Banyuwangi dan sekitarnya tentang sejarah tanah airnya sendiri.

Bukti-bukti catatan Belanda dan arsip penting lainnya tentang Blambangan dan Banyuwangi pada era sebelum kemerdekaan banyak ditemukan oleh pria asli Dusun Melik, Desa Parijatah Kulon, Kecamatan Srono tersebut.

Saat ini grup BTD telah diikuti oleh ratusan ribu pengguna Facebook.

Kembalinya sejarah Blambangan yang diunggah Munawir dan BTD semakin komplit setelah bergandengan tangan dengan komunitas Blambangan Kingdom X-plorer (BKX).

Mas Aji Wirabhumi bersama teman-temannya di BKX kerap melakukan ekspedisi ke tempat-tempat bersejarah di wilayah Tapal Kuda dan banyak menemukan catatan-catatan dan peninggalan-peninggalan penting.

Selain konsisten mengenalkan sejarah melalui sosial media, BTD dan BKX juga berupaya mengenalkan sosok Agung Wilis, Rempeg Jogopati,  dan Sayu Wiwit kepada anak-anak.

Sekolah Seharusnya Turut Berperan

Menjelang Harjaba ke-246 pada tahun 2017, Dinas Pendidikan Banyuwangi bersama berbagai pihak menggelar lomba mewarnai sosok pahlawan Blambangan di Kecamatan Rogojampi, Blimbingsari, Kabat, Siliragung, dan Pesanggaran.

Lebih dari 3 ribu murid TK dan SD turut serta dalam lomba mewarnai itu. Namun berdasar data dari panitia, tidak seluruh murid diikutsertakan.

Seiring berjalannya waktu, beberapa sekolah mulai terinspirasi melaksanakan lomba mewarnai kartun pahlawan Blambangan. Seperti empat sekolah di Desa Gintangan, Kecamatan Blimbingsari.

Dalam rangka hari ulang tahun kemerdekaan Republik Indonesia ke-73,  Pemerintah Desa Gintangan menggelar lomba mewarnai yang diikuti ratusan murid SD, TK,  dan kelompok bermain.

Kepala Desa Gintangan, Rusdianah, mengatakan, daripada mewarnai gambar Donal Bebek, lebih baik anak-anak diarahkan mewarnai gambar kartun para pahlawan.

“Gambar pahlawan yang kita pakai adalah dari Banyuwangi sendiri. Tujuannya agar anak-anak mengenal pahlawannya sendiri. Saya prihatin karena mereka lebih mengenal Upin Ipin,” jelas Rusdianah, pada Sabtu (18/8/2018).

Sementara itu, guru TK Dharma Wanita Gintangan, Illiyah, mengatakan murid TK dan KB perlu dikenalkan dengan sosok pahlawan. “Penting untuk mengenalkan kepada mereka agar mencontoh suri tauladan para pahlawan Blambangan,” tandasnya.

Pada lomba itu, para guru dilibatkan sebagai panitia pelaksana. Keikutsertaan pihak sekolah diharapkan dapat melanjutkan tujuan mengenalkan para pahlawan Blambangan saat proses belajar di sekolah.

Sementara itu, guru TK Muslimat NU Gintangan, Endang Fitriyawati, menilai lomba mewarnai tidak cukup untuk mengenalkan lebih mendalam para pahlawan Blambangan.

Dia menyarankan ada pihak yang menyusun cerita tentang perjuangan masing-masing pahlawan yang dibukukan dalam bentuk buku yang disertai gambar.

“Misalnya dibuat semacam komik atau buku mewarnai tentang perang Bayu,” pungkasnya.

Bagikan Berita ini :